|

Muslimah Reformis

Memaknai Kasih Sayang di Usia Senja: Belajar Mencintai dengan Hening

Memaknai Kasih Sayang di Usia Senja: Belajar Mencintai dengan Hening

Penulis: Musdah Mulia

 

1. Mengapa manusia membutuhkan kasih sayang?

Lima kebutuhan dasar manusia menurut teori hierarki Abraham Maslow adalah Fisiologis (makan, minum, tidur), Keamanan (rasa aman fisik dan finansial), Cinta dan Kasih Sayang (hubungan sosial, persahabatan), Penghargaan (harga diri, prestise), dan Aktualisasi Diri (mencapai potensi diri maksimal), yang tersusun secara berjenjang dari yang paling dasar hingga tertinggi

Kasih sayang tidak hanya memberi kenyamanan sementara tetapi juga berfungsi sebagai pondasi dalam menciptakan ikatan yang lebih kuat dan mendalam, yang sangat penting untuk menjaga kestabilan hubungan dalam jangka panjang.

2. Landasan Agama tentang Berbagi Kasih Sayang

Kasih sayang adalah inti ajaran agama, bukan pelengkap. Allah Swt. berfirman: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

وَمَآ اَرْسَلْنٰك اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧ (al-Anbiyā’: 107). Allah juga berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Al-Quran, 7:165). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah tidak akan memberi rahmat kepada siapa pun, kecuali kepada orang-orang yang memberi rahmat kepada sesama.”

Ayat-ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa keberagamaan sejati harus memancarkan kehidupan yang penuh kasih sayang, bukan kekerasan, bukan kebencian, dan bukan penghakiman.  Jelas bahwa kasih sayang tidak dibatasi oleh agama, identitas, atau kedekatan. Ia bersifat universal dan menjadi ukuran kualitas iman seseorang.

Al-Quran menggambarkan sifat kasih sayang dengan istilah ar-rahmah. Dan secara tegas menyebutkan bahwa sifat kasih sayang merupakan sifat ilahi yang paling menonjol dan sangat ditekankan dalam seluruh ajaran Islam. Karena itu, ketika seseorang membuka Al-Quran, baris pertama sebelum bab mana pun dimulai berbunyi: Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim atau dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Ungkapan ini disebut basmala dan ditemukan di awal semua surah kecuali al-Tawbah. Ungkapan yang sama diulang oleh umat Islam sebelum melakukan aktivitas apa pun. Ini benar-benar menjelaskan pentingnya kasih sayang dalam syariat Islam.

Di antara contoh rahmat umum beliau adalah rahmat beliau kepada orang-orang munafik dengan menyelamatkan mereka dari kematian dan penawanan karena ketaatan mereka pada Islam di dunia ini. Dari rahmat beliau yang menyeluruh adalah rahmat beliau kepada orang-orang kafir dengan mengangkat azab pemusnahan di dunia ini. Adapun umat terdahulu, ketika Allah mengutus seorang utusan kepada mereka dan mereka mengingkarinya, mereka akan disiksa dan dimusnahkan. Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, “Ya Allah! Barangsiapa yang aku hina atau kutuk, ubahlah ini menjadi sedekah, rahmat, doa, penyucian, dan pengorbanan yang dengannya Engkau mendekatkannya kepada-Mu pada Hari Kiamat.” Rahmat beliau juga terwujud dalam doanya agar Allah mengubah kutukan beliau terhadap siapa pun di antara mereka menjadi rahmat.

Kasih sayang Nabi kepada keluarganya ditunjukkan dalam cara beliau membantu mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Aisyah (istri Nabi) berkata: “Beliau rendah hati dalam pelayanan umum keluarganya. Tetapi, ketika waktu shalat tiba, beliau biasa pergi dan shalat. Beliau tidak seperti orang-orang yang zalim.” Sering kali, beliau melayani dirinya sendiri. Aisyah juga berkata: Nabi biasa menjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, dan melakukan apa yang dilakukan laki-laki lain di rumah mereka.

Contoh lain, kasih sayang Nabi kepada anak-anak adalah beliau biasa mengelus kepala mereka dan mencium mereka. Beliau juga bersabda: Barangsiapa tidak berbelas kasih, maka ia tidak akan berbelas kasih kepadanya. Beliau bersabda: Aku memulai salat dengan niat untuk memperpanjangnya. Kemudian aku mendengar seorang anak menangis, jadi aku mempersingkat, karena tahu betapa emosionalnya seorang ibu. Setiap kali beliau mendengar seorang anak menangis selama salat, beliau biasa mempersingkat salat. Beliau juga bersabda bahwa rumah terbaik di antara rumah-rumah Muslim adalah rumah yang memiliki anak yatim yang diperlakukan dengan baik di dalamnya.

Hadits tentang kasih sayang sangat banyak, namun yang paling populer adalah  (مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ) yang artinya “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi” (Bukhari). Hadits lain yang menekankan kasih sayang adalah “Sayangilah penduduk bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangimu” (Abu Dawud, Tirmidzi).

Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya kasih sayang dan kebaikan dalam hubungan antar sesama manusia, terutama dalam hubungan keluarga. Dalam Al-Quran, Allah SWT juga menekankan pentingnya kasih sayang dalam hubungan suami-istri, seperti dalam surah Ar-Rum ayat 21, yang berbunyi, “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenang dan tentram hatimu, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan belas kasihan”.

Islam mengajarkan pentingnya kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup, termasuk terhadap hewan dan lingkungan. Islam memandang bahwa semua ciptaan Allah SWT memiliki hak-hak yang harus dihormati, dan manusia sebagai khalifah di bumi harus menjaga dan merawat alam semesta dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.

Dengan demikian, kasih sayang dalam Islam bukan hanya sekedar perasaan atau emosi sesaat, tetapi juga membutuhkan tindakan nyata dan tanggung jawab yang dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas. Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya”. Dari hadis tersebut yang disebutkan adalah ‘manusia’ bukan hanya saudara muslim. Maka, kita bisa mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk menyayangi semua manusia di bumi. Pada hadis lain juga diriwayatkan bahwa Rasul bersabda, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”. Kemudian mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami sudah pengasih”. Namun Rasul bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas hanya di antara sesama Muslim, tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia” (Thabrani).

Dalam Islam, kasih sayang bukan hanya nilai moral, melainkan jalan spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya dan dengan sesama makhluk. Rasul bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (Bukhari dan Muslim). Kasih sayang merupakan kebutuhan dasar dari setiap manusia, tanpa kasih sayang manusia tidak akan pernah ada dimuka bumi ini. Kita lahir didunia ini karena adanya kasih sayang, bahkan ketika kita matipun masih akan selalu mendapatkan kasih sayang. Kasih Sayang adalah Inti Ajaran Islam. Tujuan utama hidup manusia dalam Islam adalah meraih ridha Allah SWT melalui ibadah yang tulus dan ikhlas serta penuh kasih sayang.

3. Kasih sayang dalam agama dalam Agama merupakan fondasi eksistensi

Kasih sayang merupakan landasan moral utama agama Islam. Rasa kasih sayang membangun fondasi dari hubungan yang sehat dan harmonis dalam keluarga, persahabatan dan masyarakat. Dalam Islam kasih sayang adalah landasan utama yang melampaui perasaan, mencakup tindakan nyata, keikhlasan dan tanggung jawab kepada Allah sesama manusia (termasuk keluarga, teman dan orang asing) serta seluruh makhluk hidup dan alam semesta, sebagai cerminan dari sifat Allah yang maha pengasih (Ar Rahman) dan maha penyayang (Ar Rahim) ini adalah spritual yang diwujudkan dalam akhlak mulia, kelembutan dan kepedulian setiap saat, bukan sekadar emosi sesaat.

Islam datang bukan untuk menafikan kebutuhan psikologis ini, tetapi memeluknya dengan bahasa iman. Allah memperkenalkan diri-Nya bukan sebagai Yang Maha Menghukum,
tetapi: Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Al-Qur’an menegaskan: “Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.” (Al-An‘am: 54). Ini pesan yang sangat kuat secara psikologis: kasih sayang adalah anugerah terindah dari Allah swt, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, bukan reaksi atas kebaikan manusia. Bagi lansia, ayat ini menenangkan: bahwa meski kita tidak lagi produktif seperti dulunilai kita di hadapan Allah tidak berkurang.

4. Kasih Sayang dalam Psikologi: Kebutuhan Jiwa Sepanjang Usia

Dalam kajian psikologi, manusia sejak lahir membawa satu kebutuhan utama:
kebutuhan untuk dicintai dan merasa aman. Psikolog Abraham Maslow menyebutnya sebagai need for love and belonging. Tanpa kasih sayang, manusia mudah merasa tidak berarti, cemas, dan kesepian. Menariknya, psikologi modern menegaskan: kebutuhan akan kasih sayang tidak berhenti di masa kanak-kanak. Ia justru kembali menguat di usia lanjut.

Di masa lansia, ketika: peran sosial berkurang, tubuh melemah, orang-orang terkasih mulai berpulang satu persatu, jiwa sangat membutuhkan afeksi, penerimaan, dan kehangatan. Jika kebutuhan ini tak terpenuhi, muncul apa yang dalam psikologi disebut: loneliness (kesepian mendalam), emotional neglect (rasa diabaikan), dan existential anxiety (kecemasan akan makna hidup).

Psikologi eksistensial menyebut: makna hidup di usia tua bukan pada pencapaian,
tetapi pada keterhubungan dan kontribusi emosional. Islam menyebutnya rahmat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani). Di usia lansia, manfaat itu bisa berupa: doa yang tulus, nasihat lembut, senyum yang menenangkan, dan hati yang penuh kasih. Sufi terkenal, Rumi berkata: Di akhir perjalanan, yang tersisa bukan kekuatan tubuh, melainkan kelembutan cinta.”

Manfaat kasih sayang yaitu mendapatkan rasa tenang, kepedulian, dan semangat dari seseorang. Dengan pemberian tindakan afeksi tersebut, orang yang sedang sakit akan merasa lebih baik dan berkurang rasa sakitnya. Selain itu, juga memberikan semangat dan ketenangan untuk sembuh.

Pada usia seperti hari ini, kita tidak lagi berlari mengejar dunia. Langkah kita mungkin melambat, tetapi hati justru semakin dalam mencari makna hidup. Dan justru di usia senja inilah, kita paling mampu memahami satu hal yang sering terlewat di masa muda: kasih sayang.

a. Kasih Sayang, Rasa Aman, dan Kesehatan Jiwa Lansia

Psikologi menyebut bahwa rasa aman (secure attachment) adalah fondasi kesehatan mental. Islam mengajarkan hal yang sama, tetapi objek keamanannya bukan hanya manusia,
melainkan Allah sendiri. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Ar-Ra‘d: 28). Bagi lansia, ini sangat relevan. Ketika relasi sosial menyusut, agama menawarkan ikatan emosional yang tidak pernah menua: ikatan dengan Allah swt. Seorang sufi berkata: “Jika engkau merasa ditinggalkan manusia, itu tanda Allah ingin menjadi tempat sandaranmu sepenuhnya.”

b. Kasih Sayang sebagai Self-Compassion (Belas Kasih pada Diri)

Dalam psikologi kontemporer, dikenal istilah self-compassion: kemampuan bersikap lembut kepada diri sendiri, menerima keterbatasan, dan tidak keras dalam menghakimi diri. Islam telah mengajarkan ini jauh lebih dulu. Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (Al-Baqarah: 286). Bagi lansia, ini berarti: tidak perlu merasa bersalah karena tidak sekuat dulu, tidak perlu malu karena bergantung pada orang lain, tidak perlu putus asa karena usia. Imam Al-Ghazali berkata: “Mengenal kelemahan diri bukan kehinaan, tetapi pintu menuju kerendahan hati dan cinta Tuhan.”

c. Kasih Sayang dan Penyembuhan Luka Emosional Masa Lalu

Psikologi menyebut bahwa luka emosional yang tidak disembuhkan
akan muncul kembali di usia tua. Karena itu, lansia sering lebih sensitif, mudah tersinggung,
atau larut dalam kenangan lama. Islam tidak menghakimi ini, tetapi menawarkan penyembuhan melalui maaf dan ikhlas. “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas tanggungan Allah (Asy-Syura: 40) Dalam tasawuf, Ibn ‘Athaillah berkata: “Hati yang memaafkan menjadi lapang, dan kelapangan itulah kesehatan jiwa.”

Di masa muda, kita sering mengira kasih sayang itu berarti diberi, diperhatikan, dihargai, ditemani. Namun setelah puluhan tahun menjalani hidup, setelah membesarkan anak, bekerja, berkorban, dan terkadang disalahpahami, kita sadar: kasih sayang sejati sering kali berarti tetap mencintai meski tidak selalu dimengerti. Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (Asy-Syura: 19) Kelembutan Allah itu terasa justru saat tubuh melemah, saat satu per satu orang terkasih dipanggil pulang, saat kesepian datang tanpa diundang.

  1. Kesepian Lansia dan Kasih Sayang Allah

Bapak dan Ibu yang saya muliakan, Mari jujur pada diri kita sendiri. Di usia lansia, ada hari-hari di mana kita merasa sendiri. Anak-anak sibuk, cucu tumbuh dengan dunianya, rumah terasa lebih sunyi dari dulu. Namun Al-Qur’an menenangkan kita: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16) Artinya, ketika suara manusia berkurang, kehadiran Allah justru semakin dekat. Seorang sufi berkata dengan indah: “Kesepian adalah undangan Tuhan agar engkau duduk lebih lama bersama-Nya. Jadi, mari kita menyadari bahwa Bukan semua kesepian itu hukuman. Sebagian adalah jalan pendalaman cinta.

  1. Kasih Sayang sebagai Memaafkan Masa Lalu

Di usia senja, ingatan sering berjalan mundur. Kita teringat kesalahan lama,
pertengkaran, hubungan yang tak sempat diperbaiki, atau rasa bersalah sebagai orang tua. Allah berpesan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukan kesukaran.” (Al-Baqarah: 185)  Kasih sayang kepada diri sendiri berarti: berhenti mengadili masa lalu dan mulai menitipkannya pada ampunan Allah. Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Penyesalan yang melahirkan harapan adalah ibadah, tetapi penyesalan yang mematikan harapan adalah godaan setan.”

  1. Kasih Sayang Lansia: Lebih Banyak Doa, Lebih Sedikit Tuntutan

Jika dulu kita menuntut anak-anak untuk patuh, di usia senja kita belajar satu hal:
mendoakan mereka lebih kuat daripada menegur mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Doa orang tua kepada anaknya adalah doa yang mustajab.” (HR. Ahmad). Kasih sayang di usia lansia tidak banyak ribut, tidak banyak marah-marah, tetapi diam yang penuh doa. Seorang bijak sufi berkata: “Cinta yang matang tidak berteriak, ia berdoa.”

  1. Kasih Sayang sebagai Persiapan Pulang

Kita semua tahu, usia senja adalah isyarat bahwa perjalanan ini hampir selesai. Namun Islam tidak mengajarkan kita takut, melainkan pulang dengan tenang. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani). Di usia lansia, manfaat itu tidak selalu berupa tenaga, tetapi keteladanan hati: sabar, pemaaf, dan penuh kasih. Jalaluddin Rumi berkata: “Ketika usia menua, biarkan cinta yang tumbuh muda.”

  1. Tips Berbagi Kasih Sayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Berbagi kasih sayang tidak selalu menuntut tindakan besar. Justru ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran penuh.

  1. Mulai dari mendengarkan dengan sungguh-sungguh: Mendengar tanpa menghakimi adalah bentuk kasih sayang yang sering dilupakan. Saat kita benar-benar hadir mendengarkan orang lain, keluarga, sahabat, atau bahkan orang asing, kita sedang mengakui kemanusiaan mereka.
  2. Menumbuhkan empati, bukan sekadar simpati: Empati menuntut kita mencoba memahami dari posisi orang lain, bukan hanya merasa kasihan. Dengan empati, kasih sayang menjadi jembatan, bukan jarak.
  3. Berbagi waktu, tenaga, dan perhatian: Kasih sayang tidak selalu berupa materi. Kehadiran, perhatian, dan kesediaan membantu sering kali jauh lebih bermakna bagi sesama.
  4. Melatih kebaikan spontan: Senyum tulus, sapaan hangat, atau bantuan kecil yang tak diminta adalah bentuk kasih sayang yang sederhana namun menular.

6.Tips Merawat Nurani agar Tetap Berpihak pada Kebajikan

Nurani adalah kompas batin. Ia bisa menajam, tetapi juga bisa tumpul jika diabaikan. Karena itu, ia perlu dirawat dengan usaha-usaha yang nyata.

  1. Menyediakan waktu untuk hening dan refleksi diri: Dalam keheningan, kita belajar mendengar suara hati. Bertanya secara jujur: apakah yang kulakukan hari ini sudah adil, jujur, dan membawa kebaikan bagi orang lain?
  2. Mengakui kesalahan dan belajar darinya: Nurani yang sehat tidak menolak rasa bersalah, tetapi mengolahnya menjadi pembelajaran dan pertobatan moral.
  3. Mendekat pada mereka yang terluka dan terpinggirkan: Kepekaan nurani tumbuh ketika kita tidak menutup mata dari penderitaan. Berjumpa dengan yang lemah membuat nurani tetap hidup dan manusiawi.
  4. Membiasakan konsistensi antara nilai dan tindakan: Kebajikan bukan hanya soal niat baik, tetapi kesetiaan untuk menerjemahkan nilai ke dalam tindakan nyata, meski pelan dan tidak sempurna.
  5. Menjaga hati dari kebencian dan prasangka: Kebencian adalah racun bagi nurani. Memaafkan, meski sulit, adalah cara membersihkan batin agar kasih sayang tetap punya ruang untuk tumbuh.
Dalil dan Hikmah tentang Merawat Nurani untuk Kebajikan

Nurani dalam Islam sering dikaitkan dengan qalb (hati), pusat kesadaran moral manusia. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” al-Ḥajj: 46). Ayat ini mengingatkan bahwa krisis kemanusiaan bukan semata karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena hati dan nurani yang kehilangan kepekaan. Rasulullah Saw. juga bersabda: Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (Bukhari dan Muslim). Merawat nurani berarti menjaga pusat moral agar tetap hidup, jujur, dan berpihak pada kebaikan.

Kata Bijak Para Sufi dan Tokoh Spiritualitas

Imam al-Ghazali menulis: “Hati itu seperti cermin; dosa dan kebencian membuatnya berkarat, sedangkan dzikir dan kebaikan akan membersihkannya.” Merawat nurani adalah proses membersihkan karat batin agar cahaya ilahi tetap memantul di dalam diri.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berpesan:“Jadilah engkau seperti bumi: semua menginjaknya, tetapi darinya tumbuh kehidupan.”Sebuah pelajaran mendalam tentang kerendahan hati dan kemurahan kasih, bahkan kepada mereka yang menyakiti.

Sementara Ibn ‘Arabi mengingatkan: “Hatiku telah mampu menerima segala rupa; ia adalah biara bagi rahib, Ka’bah bagi peziarah, dan kitab suci bagi pencari kebenaran.”Kasih sayang sejati meluaskan hati, bukan menyempitkannya.

7.Upaya-Upaya Konkret di Penghujung Hidup

Agar Kasih Sayang Tetap Mengalir dan Nurani Tetap Terjaga

Di akhir hidup, manusia tidak lagi dinilai dari seberapa banyak yang ia miliki, melainkan dari jejak kasih yang ia tinggalkan dan ketenangan nurani yang ia rawat. Pada fase ini, kebaikan justru menemukan bentuknya yang paling jujur dan murni.

  1. Memperbanyak memaafkan dan meminta maaf: Memaafkan orang lain—dan berani meminta maaf—adalah bentuk kasih yang paling dewasa. Ia membebaskan hati dari beban lama dan mengembalikan kemanusiaan pada relasi yang pernah retak. Di akhir hidup, berdamai jauh lebih mulia daripada perasaan menang.
  2. Meluruskan niat dan membersihkan hubungan: Menyambung silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan mendoakan mereka yang pernah menyakiti adalah latihan tertinggi merawat nurani. Kasih sayang tidak selalu harus diucapkan; kadang cukup dengan doa yang tulus dan diam-diam.
  3. Berbagi kebaikan yang terus hidup setelah kita tiada: Mengajar, menulis, mewariskan nilai, membangun tradisi kebaikan dalam keluarga atau komunitas—semua itu adalah amal jariyah nurani. Di akhir hidup, kita belajar bahwa yang abadi bukan tubuh, tetapi manfaat.
  4. Menjadi teladan ketenangan dan kebijaksanaan: Sikap lembut, tutur kata yang menenangkan, dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan adalah warisan tak tertulis yang paling dikenang. Banyak orang tidak mengingat apa yang kita katakan, tetapi mengingat bagaimana hati mereka disentuh oleh kehadiran kita.
  5. Menjaga ibadah yang memanusiakan: Ibadah di akhir hidup bukan perlombaan ritual, melainkan perjumpaan yang jujur dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, yang tercermin dalam sikap adil, welas asih, dan kepedulian pada sesama. Nurani yang terawat selalu menuntun ibadah agar tidak menjauh dari kemanusiaan.
  6. Menerima kefanaan dengan lapang dan penuh harap: Menerima akhir hidup dengan ikhlas adalah puncak spiritualitas. Dari penerimaan itulah lahir kasih sayang sejati yang tidak menuntut balasan dan juga tidak mencari pujian.

8.Penutup Kontemplatif

Pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang sempurna, melainkan hidup yang terus berusaha setia pada kasih sayang dan kebajikan hingga nafas terakhir.
Nurani yang dirawat akan menuntun manusia pulang, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kedamaian penuh kasih sayang.

Berbagi kasih sayang dan merawat nurani bukanlah tugas sesaat, melainkan laku hidup yang terus diperjuangkan. Dalam dunia yang semakin bising oleh kebencian dan ketidakadilan, menjaga hati agar tetap lembut adalah bentuk keberanian spiritual.

Agama, dalam maknanya yang terdalam, hadir untuk membela kehidupan, memuliakan manusia, dan menumbuhkan cinta yang penuh kasih sayang, bukan sebaliknya.

Akhirnya, Jika hidup adalah perjalanan, maka kasih sayang adalah bekalnya, dan nurani adalah penunjuk jalannya.

Mari kita tutup dengan doa: Ya Allah, ajarkan kami mencintai dengan tenang di usia senja. Anugerahilah hidup kami dengan kasih sayang sehingga dapat berbagi dg siapa pun dengan penuh rasa syukur.

Ringankan beban masa lalu kami, lembutkan hati kami selamanya,
dan terimalah kami kelak dengan kasih-Mu.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.