|

Muslimah Reformis

Puang Mami, Cahaya yang Tak Pernah Padam

Puang Mami, Cahaya yang Tak Pernah Padam

Oleh: Musdah Mulia

Empat puluh hari telah berlalu sejak Puang Mami berpulang, namun kehadirannya masih terasa begitu dekat dalam ingatan, dalam nilai-nilai yang beliau tanamkan, dan dalam cara kami menjalani hidup sehari-hari. Puang Mami bukan sekadar sosok yang melahirkan dan membesarkan kami. Ia adalah guru pertama, teladan kehidupan, Role Model dan cahaya yang membimbing langkah kami bahkan setelah beliau tiada.

Nama lengkap almarhumah, Hj. Buaidah binti H. Achmad. Beliau lahir di Sengkang, Kab. Wajo, 21 April 1939, dan wafat di Makassar pada 3 Januari 2026 bertepatan dengan 14 Rajab 1447 H. Beliau merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Semuanya sudah meninggal sekarang. Ayahnya bernama H. Achmad, seorang saudagar kaya, memiliki sejumlah perahu pinisi. Ibunya bernama Hj. Fatimah binti H. Muhammad Nuhung, seorang ulama yang dikenal berintegritas tinggi dan menjabat sebagai qadhi (hakim tinggi) di lingkungan Keranjaan Bone.

Almarhumah merupakan perempuan pertama di desanya (Desa Sajoanging) yang berhasil melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) yang terletak di Mangkoso, Pare-Pare. Jaraknya ketika itu ditempuh lebih dari dua hari perjalanan karena minimnya transportasi, dan juga karena belum ada jalan raya yang langsung ke sana dari desanya sehingga harus berganti-ganti kendaraan.Almarhumah menikah dengan H. Mustamin bin H. Abdul Fattah (almarhum) dan dikaruniai 7 orang anak sebagai berikut: Musdah Mulia, Alim Suryono (almarhum), Gemilang, Dia Raya (almarhum), Gayatri (almarhumah sejak bayi), Gustiati dan Yuspiani.

Puang Mami, sosok yang selalu ceria dan konsen pada pendidikan

Mami, demikian panggilan kami, anak-anaknya. Setelah cucu-cucu dan cicitnya hadir, mereka lalu memanggilnya Puang Mami dan panggilan itu melekat sampai akhir hayat almarhumah. Sejak kecil, kami mengenal Puang Mami sebagai perempuan yang percaya bahwa setiap anak, terutama anak perempuan, harus tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berdaya, berani, dan bertanggung jawab. Jauh sebelum kami mengenal istilah feminisme atau wacana kesetaraan gender, Puang Mami telah mempraktikkan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Ia tidak mengajarkan kami dengan teori panjang, melainkan dengan keteladanan: bagaimana bekerja dengan tekun, mengambil keputusan dengan percaya diri, dan berdiri tegak menghadapi kesulitan hidup. Beliau memiliki segudang talenta dan ketrampilan: pandai mengaji, pandai menyanyi, pandai mengetik, pandai memasak dan bahkan pandai melakukan tugas keperawatan dan kebidanan seperti menyuntik dan membantu persalinan.

Komitmen Puang Mami terhadap pendidikan begitu kuat. Bagi beliau, pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan kedisiplinan hidup. Kami dibesarkan dalam suasana yang penuh aturan, tetapi sekaligus penuh cinta. Disiplin yang beliau tanamkan bukanlah tekanan, melainkan latihan untuk menjadi manusia yang mampu menghargai waktu, menghormati orang lain, dan menjalani hidup dengan tanggung jawab. Kini, ketika kami menengok perjalanan hidup masing-masing, kami menyadari bahwa kekuatan yang kami miliki hari ini berakar dari didikan beliau yang konsisten dan penuh kesabaran.

Puang Mami juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dan menyenangkan. Senyumnya mudah merekah, suaranya merdu ketika menyanyi, dan bacaan Al-Qur’annya selalu membawa ketenangan bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia menghadirkan kegembiraan dalam rumah, membuat keluarga merasa aman, dan menjadikan kebersamaan sebagai ruang penuh kasih. Bahkan dalam kesibukan dan tantangan hidup, Puang Mami selalu menemukan cara untuk tetap ceria, seolah ingin mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah pilihan yang harus terus dirawat.

Perjalanan hidup Puang Mami sendiri adalah kisah keberanian. Pada masa ketika banyak perempuan di lingkungannya masih dibatasi ruang geraknya, beliau justru menjadi perempuan pertama di desanya yang menamatkan pendidikan di pesantren. Keputusan itu bukan hanya membuka jalan bagi dirinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain. Dengan langkahnya yang berani, Puang Mami menunjukkan bahwa perempuan berhak bermimpi, berhak belajar, dan berhak menentukan masa depannya sendiri.

Semangat belajar itu tidak pernah berhenti hingga usia senja. Puang Mami tetap aktif mengikuti berbagai kursus dan pelatihan untuk menambah keterampilan, seakan ingin menunjukkan kepada kami bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup. Ketika saya sudah menapaki perguruan tinggi, tepatnya di Fakultas Ushuluddin, almarhumah pun ikut kuliah mengambil jurusan yang sama tanpa merasa risih berada satu kelas dengan puterinya. Ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diketahui, karena baginya setiap pengetahuan baru adalah cara untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Yang paling membekas dalam ingatan kami adalah ketulusan Puang Mami dalam menolong sesama. Rumah kami sering menjadi tempat orang datang meminta bantuan, keluarga, tetangga, bahkan orang yang tidak terlalu dikenal. Puang Mami selalu menyediakan waktu, tenaga, bahkan apa yang beliau miliki untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ia tidak pernah bertanya apa yang akan ia dapatkan sebagai balasan; baginya, membantu adalah bagian dari iman dan kemanusiaan. Ketulusan itu mengajarkan kami bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan hanya apa yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang kita bagikan.

Kini, ketika Puang Mami telah kembali kepada Sang Pencipta, kami menyadari bahwa warisan terbesarnya bukanlah harta atau benda, melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah tertanam kuat dalam diri kami: keberanian untuk bermimpi, keteguhan untuk belajar, kedisiplinan dalam menjalani tanggung jawab, serta keikhlasan untuk berbagi dengan sesama. Nilai-nilai itulah yang akan terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi, menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus.

Empat puluh hari ini bukan sekadar penanda waktu kepergian, tetapi juga momen untuk memperbarui tekad kami: melanjutkan kebaikan yang telah Puang Mami mulai, menjaga nama baik yang beliau tinggalkan, dan menjadikan hidup kami sebagai perpanjangan dari cinta dan pengabdian beliau kepada sesama.

Puang Mami mungkin telah tiada secara fisik, tetapi teladannya tetap menyala dalam setiap langkah kami. Selama kami masih berusaha hidup dengan nilai-nilai yang beliau ajarkan, selama kami masih berusaha menolong sesama sebagaimana beliau lakukan, selama itulah Puang Mami sesungguhnya tetap hadir menjadi cahaya yang tidak pernah padam.

Pesan Puang Mami yang hidup dalam diri kami

Kepergian Puang Mami sesungguhnya bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru bagi kami yang masih diberi kesempatan hidup. Kepada kami, anak-anak, adik-adik, keponakan, dan cucu-cucu, Puang Mami seakan menitipkan pesan yang tak terucap, tetapi sangat jelas terbaca dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Untuk adik-adik dan generasi yang lebih muda, teladan Puang Mami mengajarkan bahwa hidup tidak boleh dijalani dengan pasrah dan ketakutan. Puang Mami telah membuktikan bahwa keterbatasan zaman, tradisi, dan keadaan tidak boleh mematikan semangat belajar dan keberanian bermimpi. Maka teruslah menuntut ilmu, di mana pun dan kapan pun. Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang telah diketahui, karena belajar adalah cara paling luhur untuk memuliakan diri dan orang lain.

Puang Mami juga mengajarkan bahwa menjadi perempuan maupun laki-laki berarti memikul tanggung jawab moral: bertanggung jawab atas pilihan hidup, atas keluarga, dan atas dampak kehadiran kita bagi sesama dan lingkungan semesta. Kemandirian yang beliau tanamkan bukan untuk menjauhkan diri dari orang lain, melainkan agar kita mampu berdiri tegak sambil tetap peduli dan berbagi.

Kepada para keponakan dan cucu-cucu tercinta, kisah hidup Nenek adalah pelajaran berharga tentang keberanian menjadi diri sendiri dan ketekunan menjalani proses. Nenek mungkin tidak meninggalkan kemewahan, tetapi meninggalkan keteladanan yang jauh lebih berharga: akhlak yang baik, hati yang lapang, dan tangan yang selalu terbuka untuk menolong. Jika kelak kalian dihadapkan pada pilihan hidup yang sulit, ingatlah bagaimana Nenek memilih jalan kebaikan meski tidak selalu mudah.

Puang Mami juga seakan berpesan agar kami menjaga kegembiraan dalam hidup. Senyum, nyanyian, dan keceriaan beliau adalah pengingat bahwa iman dan etika tidak harus hadir dalam wajah yang muram. Kebaikan justru tumbuh subur dari hati yang ringan, penuh syukur, dan mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Di atas segalanya, Puang Mami meninggalkan amanat agar kami terus merawat kemanusiaan. Menjadi manusia yang peka terhadap penderitaan sesama, yang tidak menutup mata terhadap kesulitan orang lain, dan yang selalu siap berbagi meski dalam keterbatasan. Jika warisan ini terus kami jaga dan kami hidupkan, maka sejatinya Puang Mami tidak pernah benar-benar pergi.

Semoga kami semua, anak-anak, adik-adik, keponakan, dan cucu-cucu serta cicitnya, mampu melanjutkan jejak langkah beliau, bukan dengan meniru secara sempurna, tetapi dengan menumbuhkan nilai-nilai yang sama dalam konteks zaman kami masing-masing. Dan semoga setiap kebaikan yang lahir dari teladan Puang Mami menjadi cahaya yang menerangi alam kuburnya dan mengalir sebagai pahala yang tak terputus. Aminnn ya Rabbal ‘alamin.