|

Muslimah Reformis

Sambutan Hari Suci Ridwan

Sambutan Hari Suci Ridwan 

Oleh: Musdah Mulia

Saudara-saudari terkasih, para sahabat kemanusiaan, dan seluruh hadirin yang saya hormati,

Pertama, izinkan saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Majelis Rohani Nasional Baha’I Indonesia di Jakarta yang telah mengundang kita semua pada perayaan suci ini sehingga terwujud silaturahim yang akrab di antara kita semua sebagai umat manusia dalam keridhaan Tuhan Yang maha Esa.

Dalam agama Baha’i, Hari Ridwan adalah salah satu perayaan paling suci dan paling agung. Ridwan (dari bahasa Arab رضوان) berarti “surga” atau “keridaan Tuhan. Hari Ridwan memperingati peristiwa ketika Bahá’u’lláh, pendiri agama Baha’I, pada tahun 1863 menyatakan misi kenabiannya kepada para pengikut terdekatnya di Taman Ridwan, dekat Baghdad. Peristiwa ini dianggap sebagai titik awal lahirnya agama Baha’i secara terbuka.

Makna spiritual Hari Ridwan sangat mendalam, terutama tentang:

  • persatuan umat manusia
  • perdamaian dunia
  • keadilan sosial
  • kesatuan agama-agama
  • penghapusan prasangka
  • kesetaraan laki-laki dan perempuan
  • pembangunan peradaban yang berlandaskan kasih dan keadilan

Begitu pentingnya makna Hari Ridwan, sehingga ia sering disebut sebagai “Festival Teragung” dalam agama Baha’i. Bagi umat Baha’i, Ridwan bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga memperbarui komitmen spiritual untuk membangun dunia yang damai dan bersatu sebagai satu keluarga manusia di bawah Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat kohesif yang menjadi tema perayaan Ridwan kali ini hanya dapat terwujud manakala manusia dapat saling menghargai, terlepas dari apa pun agama mereka, suku, kebangsaan dan lainnya.

Pertanyaan penting bagi kita sekarang adalah mengapa manusia bisa tidak saling menghargai? Hal itu antara lain, karena manusia sering hidup lebih dekat dengan ketakutan daripada dengan kesadaran. Kesadarannya tertutup oleh rasa takut.

Kita tidak saling menghargai bukan karena kita diciptakan untuk membenci, melainkan karena kita sering dibentuk oleh rasa takut: takut kehilangan kekuasaan, takut berbeda, takut tersaingi, takut identitasnya runtuh, bahkan takut pada sesama yang sebenarnya sama-sama rapuh.

Ketika rasa takut menguasai hati, lahirlah prasangka. Dari prasangka tumbuh diskriminasi. Dari diskriminasi muncul kekerasan. Dan perlahan manusia lupa bahwa di balik agama, suku, warna kulit, jenis kelamin, dan status sosial, kita semua sama-sama manusia.

Sering pula manusia lebih mewarisi kebencian daripada belajar kasih. Kita diajarkan siapa yang harus dicurigai, bukan siapa yang harus dirangkul. Kita mewarisi tembok, bukan jembatan. Padahal hampir semua ajaran agama mengajarkan hal yang sama: kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Namun agama kadang berhenti di bibir, tidak turun menjadi akhlak sosial. Orang bisa sangat rajin beribadah, tetapi masih tega merendahkan sesamanya. Itulah mengapa agama jangan hanya menjadi ritual kosong melainkan harus dijabarkan dalam perilaku sosial dengan sesama. Pertanyaan penting yang harus selalu kita refleksikan: “Apakah saya sudah menjadi orang yang menghargai sesama?” Sebab, Perdamaian dunia dimulai dari pertanyaan yang sangat pribadi itu.

Selain itu, faktor luka sejarah, berupa penjajahan, ketimpangan ekonomi, ketidakadilan politik sering membuat manusia mudah saling menyalahkan. Ketika hidup terasa sempit, orang sering mencari kambing hitam.

Namun, kita harus percaya bahwa harapan selalu ada. Karena manusia juga memiliki kemampuan untuk belajar mencintai, memahami, dan berubah. Hati manusia bisa dilatih. Empati bisa ditumbuhkan. Perdamaian bisa dibangun. Menghargai sesama dimulai dari kesadaran sederhana: bahwa setiap orang sedang berjuang dalam hidupnya, dan setiap jiwa memiliki martabat yang diberikan Tuhan.

Hari Ridwan bukan sekadar perayaan spiritual, melainkan juga momentum suci untuk mengingat panggilan luhur kemanusiaan: bahwa kita semua, tanpa memandang agama, suku, bangsa, maupun latar belakang sosial, adalah satu keluarga besar dalam naungan Tuhan Yang Maha Esa. Perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan anugerah untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling menguatkan.

Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, ketidakadilan, kekerasan, dan prasangka, dan di tengah kondisi bangsa kita yang sedang menghadapi banyak ujian sosial, ekonomi, politik, dan moral, pesan utama Hari Ridwan menjadi semakin relevan: pentingnya persatuan umat manusia. Perdamaian tidak akan lahir hanya dari perjanjian politik, tetapi tumbuh dari hati yang bersedia mengakui martabat setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.

Solidaritas adalah wujud nyata dari iman. Ketika kita berdiri bersama mereka yang tertindas, ketika kita merangkul mereka yang disingkirkan, ketika kita memilih dialog daripada permusuhan, sesungguhnya kita sedang menegakkan kehendak Tuhan di muka bumi.

Sebagai umat beragama, kita memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menjadi jembatan perdamaian, bukan tembok pemisah. Agama seharusnya menjadi sumber cinta dan pembebasan, bukan alat kebencian dan penindasan. Kita dipanggil untuk menghadirkan wajah Tuhan yang penuh kasih melalui tindakan nyata: keadilan, empati, persaudaraan, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.

Karena itu, dalam situasi bangsa yang tidak baik-baik saja ini, ada beberapa langkah strategis yang harus kita lakukan bersama.

Pertama, memperkuat budaya dialog dan saling mendengar. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan itu sendiri, tetapi karena hilangnya ruang untuk mendengar dengan tulus. Kita perlu membangun kembali ruang-ruang perjumpaan lintas agama, lintas generasi, dan lintas kelompok sosial agar prasangka dapat digantikan oleh pengertian.

Kedua, menumbuhkan solidaritas sosial yang nyata. Jangan biarkan penderitaan hanya menjadi berita yang lewat di layar. Kita harus hadir bagi mereka yang miskin, yang terpinggirkan, korban kekerasan, perempuan yang dilemahkan, anak-anak yang kehilangan masa depan, dan mereka yang kehilangan harapan hidup.

Ketiga, menolak segala bentuk politisasi agama dan penyalahgunaan iman untuk kepentingan kekuasaan. Agama harus menjadi cahaya moral, bukan alat manipulasi. Umat beragama harus berani bersikap kritis terhadap segala bentuk ketidakadilan, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang.

Keempat, memperkuat pendidikan perdamaian dan nilai kemanusiaan sejak dini. Anak-anak kita harus dibesarkan bukan dalam kebencian, tetapi dalam penghormatan terhadap keberagaman, kesetaraan, dan martabat sesama manusia.

Kelima, merawat harapan bersama. Bangsa yang kehilangan harapan akan mudah jatuh pada keputusasaan dan permusuhan. Kita harus menjadi penjaga optimisme sosial—meyakini bahwa perubahan selalu mungkin, selama kita tidak menyerah untuk berbuat baik.

Hari Ridwan mengajarkan bahwa dunia yang damai bukanlah utopia, melainkan cita-cita yang harus diperjuangkan bersama. Perdamaian dimulai dari rumah, dari keluarga, dari komunitas kecil, dan dari keberanian kita untuk menghormati sesama.

Mari kita jadikan peringatan suci ini sebagai pengingat bahwa persatuan umat manusia bukan sekadar gagasan indah, tetapi sebuah keharusan moral dan spiritual. Sebab hanya dengan persatuan, solidaritas, dan cinta kasih, kita dapat membangun peradaban yang lebih bermartabat.

Akhirnya, secara tulus saya menghaturkan, selamat memperingati Hari Suci Baha’i, Hari Ridwan 138 EB. Semoga Tuhan membimbing langkah kita untuk terus menjadi pembawa damai, penebar kasih, dan penjaga persaudaraan semesta. Aminnn ya Allah.

Terima kasih.

Terkini