MAULID DAN PESAN KEMERDEKAAN HAKIKI
Oleh: Musdah Mulia
“Kapan manusia benar-benar merdeka?”
Pertanyaan ini layak kita ajukan kembali ketika bangsa Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaannya dan dalam waktu yang tidak berjauhan, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekilas, kemerdekaan dan Maulid adalah dua peristiwa yang berbeda. Yang satu berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan, sementara yang lain merupakan momentum untuk mengenang kelahiran seorang Nabi yang hidup lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun jika kita menggali maknanya lebih dalam, keduanya bertemu pada satu kata yang sangat fundamental: pembebasan.
Kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan. Sementara kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa misi membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan, bukan hanya perbudakan secara fisik, tetapi juga perbudakan pikiran, tradisi yang menindas, ketidakadilan sosial, kesewenang-wenangan kekuasaan, diskriminasi, dan penghambaan manusia kepada selain Allah. Karena itu, memperingati Maulid Nabi di bulan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada perayaan seremonial. Maulid seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya: sudahkah kita benar-benar merdeka?
- Nabi Muhammad dan Misi Pembebasan Manusia
Nabi Muhammad SAW tidak datang hanya untuk mengajarkan ritual keagamaan. Beliau membawa risalah yang mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri dan sesamanya. Islam menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah. Kemuliaan itu tidak ditentukan oleh kekayaan, keturunan, warna kulit, jenis kelamin, status sosial, atau kekuasaan. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, sedangkan ukuran kemuliaan di hadapan Allah adalah ketakwaan. Pesan tersebut sesungguhnya merupakan revolusi kemanusiaan.
Di tengah masyarakat yang mengenal hierarki sosial yang sangat kuat, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kesetaraan manusia. Di tengah budaya yang merendahkan perempuan, beliau mengangkat martabat perempuan. Di tengah praktik eksploitasi terhadap kaum lemah, beliau membela anak yatim, fakir miskin, budak, perempuan, dan kelompok yang terpinggirkan. Nabi juga memperkenalkan prinsip bahwa kekuasaan bukanlah hak untuk menguasai manusia, melainkan amanah untuk melayani mereka. Dengan demikian, kemerdekaan dalam perspektif kenabian bukan sekadar bebas dari penjajahan oleh bangsa lain. Kemerdekaan adalah terbebasnya manusia dari segala bentuk penindasan yang merampas martabat kemanusiaannya.
- Indonesia Merdeka, Tetapi Apakah Rakyat Sudah Merdeka?
Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak nyaman, tapi kita harus berani mempertanyakannya. Indonesia telah merdeka selama lebih dari delapan dekade. Bendera Merah Putih berkibar di seluruh pelosok negeri. Kita memiliki pemerintahan sendiri, konstitusi sendiri, bahasa sendiri, dan sistem politik sendiri. Namun, kemerdekaan politik tidak otomatis berarti kemerdekaan substantif.
Mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut:
Bagaimana kita mengatakan seseorang telah merdeka apabila ia masih terbelenggu oleh kemiskinan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya?
Bagaimana kita mengatakan seorang anak telah merdeka apabila ia lahir dalam keluarga miskin dan tidak memperoleh pendidikan yang layak?
Bagaimana kita mengatakan masyarakat telah merdeka apabila mereka takut menyampaikan pendapat?
Bagaimana kita berbicara tentang kemerdekaan jika hukum belum selalu mampu memberikan rasa keadilan yang sama kepada semua warga?
Bagaimana kita mengatakan perempuan telah merdeka jika tubuh, pilihan, suara, dan kehidupannya masih terlalu sering dikendalikan oleh orang lain?
Bagaimana kita menyebut sebuah bangsa merdeka apabila sebagian warganya masih mengalami diskriminasi karena agama, keyakinan, identitas, gender, kondisi ekonomi, ataupun kelompok sosialnya?
Dan bagaimana kita berbicara tentang kemerdekaan jika agama yang seharusnya membebaskan manusia justru sesekali digunakan untuk menakut-nakuti, menghakimi, membungkam, bahkan memecah belah sesama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah bentuk ketidaksyukuran terhadap kemerdekaan. Sebaliknya, pertanyaan kritis adalah bentuk kecintaan kepada bangsa. Sebab kemerdekaan bukanlah sebuah titik akhir. Kemerdekaan adalah proyek kemanusiaan yang harus terus disempurnakan.
- Kemerdekaan dari Penjajahan yang Tidak Terlihat
Penjajahan zaman dahulu relatif mudah dikenali. Ada tentara asing, senjata, benteng, dan kekuasaan kolonial. Penjajahan masa kini jauh lebih kompleks. Manusia dapat dijajah oleh kebodohan, kemiskinan, ketakutan, informasi palsu, fanatisme, konsumerisme, kekuasaan. Bahkan seseorang dapat dijajah oleh pikirannya sendiri ketika ia kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu bentuk perjuangan kemerdekaan yang paling penting. Bangsa yang tidak berpendidikan mudah dimanipulasi. Masyarakat yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis mudah diprovokasi. Rakyat yang tidak memahami hak-haknya mudah diperlakukan tidak adil.
Di sinilah pesan kenabian menjadi sangat relevan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca: Iqra’. Membaca bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca kehidupan, membaca sejarah, membaca penderitaan manusia, membaca ketidakadilan, membaca perubahan zaman, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah dalam kehidupan. Karena itu, pendidikan dan literasi adalah bagian dari jalan menuju kemerdekaan hakiki.
- Maulid Bukan Sekadar Mengenang Kelahiran Nabi
Setiap tahun kita memperingati Maulid Nabi dengan berbagai bentuk kegiatan. Kita membaca shalawat, mendengarkan ceramah, mengadakan pengajian, dan mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Semua itu baik. Tetapi kecintaan kepada Nabi tidak boleh berhenti pada ekspresi verbal. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang kita warisi dari perjuangan Nabi untuk kehidupan manusia hari ini?
Jika Nabi membela kaum lemah, apakah kita juga berpihak kepada mereka? Jika Nabi menegakkan keadilan, apakah kita berani bersikap adil bahkan ketika keadilan itu merugikan kelompok kita sendiri? Jika Nabi menghormati perempuan, apakah kita masih membenarkan praktik yang merendahkan perempuan? Jika Nabi memperlakukan manusia dengan kasih sayang, mengapa kita begitu mudah mencaci orang yang berbeda keyakinan dan pandangan? Jika Nabi mengajarkan persaudaraan, mengapa perbedaan politik dan agama begitu mudah membuat kita saling membenci? Jika Nabi membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, apakah kita justru ikut menciptakan penindasan baru atas nama agama? Di sinilah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam. Intinya adalah mencintai Nabi bukan sekadar memperbanyak pujian kepada beliau, tetapi meneruskan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan.
- Dari Kemerdekaan Politik Menuju Kemerdekaan Kemanusiaan
Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan tonggak sejarah yang luar biasa. Para pendiri bangsa telah mewariskan kepada kita sebuah negara yang dibangun di atas cita-cita luhur: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Cita-cita itu memiliki resonansi yang kuat dengan pesan universal kenabian. Sebab agama dan negara, dalam konteks kehidupan bersama, sama-sama dituntut untuk menghadirkan kemaslahatan manusia. Karena itu, ukuran keberhasilan kemerdekaan tidak semestinya hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Ukuran yang lebih mendasar adalah: Apakah manusia Indonesia semakin bermartabat? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang berkualitas? Apakah orang miskin memperoleh kesempatan hidup yang layak? Apakah perempuan mendapatkan keadilan? Apakah kelompok minoritas merasa aman menjadi warga negara? Apakah hukum berlaku secara adil? Apakah kebebasan berpikir dan berbicara dihormati? Apakah kekuasaan digunakan untuk melayani rakyat? Apakah agama menjadi sumber kasih sayang dan perdamaian, bukan sumber ketakutan dan permusuhan? Jika jawabannya belum, maka perjuangan kemerdekaan kita sesungguhnya belum selesai.
- Merdeka dari Hawa Nafsu Kekuasaan
Ada satu bentuk penjajahan yang sering luput dibicarakan: penjajahan oleh kekuasaan dan keserakahan. Kekuasaan pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Yang berbahaya adalah ketika kekuasaan kehilangan moralitas. Ketika jabatan menjadi alat memperkaya diri, ketika kepentingan publik dikalahkan oleh kepentingan kelompok, ketika hukum dapat dipermainkan, ketika kritik dianggap ancaman, dan ketika rakyat hanya dipandang sebagai angka dalam statistik politik, maka kemerdekaan kehilangan ruhnya.
Dalam tradisi Islam, kekuasaan adalah amanah. Karena itu, orang yang benar-benar merdeka bukanlah orang yang memiliki kekuasaan paling besar, melainkan orang yang tidak diperbudak oleh kekuasaan. Demikian pula orang yang kaya belum tentu merdeka apabila ia diperbudak oleh keserakahan. Orang berpendidikan belum tentu merdeka apabila ilmunya digunakan untuk menipu. Orang yang berbicara tentang agama belum tentu merdeka apabila ia diperbudak oleh kebencian dan fanatisme. Jadi, kemerdekaan hakiki adalah kemampuan manusia untuk mengatakan tidak kepada segala sesuatu yang merendahkan martabat kemanusiaannya, termasuk kepada hawa nafsu dirinya sendiri.
- Pesan Maulid untuk Indonesia
Maka, ketika Maulid Nabi datang di tengah suasana bulan kemerdekaan, kita sesungguhnya mendapatkan kesempatan yang sangat istimewa untuk melakukan refleksi kebangsaan. Kita dapat membaca kembali sejarah kemerdekaan Indonesia melalui cahaya nilai-nilai kenabian. Para pahlawan berjuang agar bangsa ini bebas dari penjajahan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan manusia agar bebas dari segala bentuk penghambaan yang merendahkan martabat. Keduanya bertemu dalam satu cita-cita: manusia yang merdeka, bermartabat, adil, dan bertanggung jawab. Karena itu, peringatan Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk memperluas pengertian kemerdekaan.
Merdeka bukan sekadar bebas mengibarkan bendera. Hakikat merdeka adalah bebas dari kebodohan, kemiskinan, ketakutan, diskriminasi, kekerasan, korupsi, manipulasi agama, kebencian terhadap perbedaan, keserakahan. Dan yang tidak kalah penting, merdeka dari ego dan hawa nafsu yang membuat kita kehilangan kemanusiaan.
- Penutup: Merayakan Maulid Nabi dengan Membebaskan Manusia
Barangkali inilah cara yang paling bermakna untuk memperingati Maulid Nabi di bulan kemerdekaan. Bukan hanya dengan bertanya, “Seberapa besar kecintaan kita kepada Nabi?” Tetapi juga dengan bertanya: Seberapa besar kehidupan kita menghadirkan rahmat yang dibawa Nabi? Sebab Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Maka ukuran keberagamaan kita tidak cukup dilihat dari seberapa sering kita berbicara tentang Nabi, tetapi juga dari seberapa jauh kehadiran kita membuat orang lain merasa aman, dihormati, ditolong, dan dimuliakan.
Kemerdekaan Indonesia harus terus diisi dengan perjuangan membangun manusia yang merdeka. Dan Maulid Nabi harus terus dihidupkan dengan perjuangan menghadirkan manusia yang berakhlak, adil, berilmu, penuh kasih sayang, serta menghormati martabat setiap manusia.
Kemerdekaan politik telah kita proklamasikan pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan kemanusiaan adalah tugas yang harus kita perjuangkan setiap hari. Di situlah Maulid dan kemerdekaan bertemu. Bukan sekadar dalam perayaan. Tetapi dalam perjuangan membebaskan manusia.
Mungkin inilah salah satu cara paling bermakna mencintai Nabi Muhammad SAW: meneruskan misi pembebasan yang beliau bawa, dimulai dari lingkungan terdekat kita agar tidak ada manusia, terutama perempuan dan kelompok yang lemah, yang hidup dalam keadaan merdeka secara hukum tetapi terjajah dalam kehidupan.
Semoga kita tidak hanya menjadi bangsa yang merdeka dari penjajahan, tetapi juga menjadi bangsa yang merdeka dalam pikiran, merdeka dalam nurani, merdeka dalam menjalankan keyakinan, merdeka dari ketidakadilan, dan merdeka untuk hidup bermartabat sebagai manusia.
Maulid bukan hanya mengenang kelahiran Nabi, melainkan menghidupkan kembali misi pembebasan manusia yang dibawa Nabi ke dalam persoalan Indonesia hari ini. Semoga cinta kepada Nabi menyalakan kembali keberanian kita untuk memperjuangkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan manusia dari segala bentuk penindasan, menuju kehidupan yang adil, damai, bahagia dan berkeadaban, baldatun thayyibah wa rabun gafur.