|

Muslimah Reformis

Hambatan Utama Muslimah Dalam Upaya Pemberdayaan Diri

BAGIKAN

Hambatan Utama Muslimah Dalam Upaya Pemberdayaan Diri

Oleh: Musdah Mulia

  1. Rasa bersalah ketika memikirkan diri sendiri

Banyak perempuan sejak kecil dididik untuk menjadi pengasuh: mendahulukan orang tua, suami, anak, keluarga, dan masyarakat. Akibatnya, ketika ingin belajar, bekerja, berorganisasi, bepergian, atau mengejar cita-cita, muncul perasaan bersalah. Seolah-olah memikirkan diri sendiri berarti egois. Padahal, Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan dirinya. Merawat diri, mengembangkan potensi, dan menjaga martabat diri juga merupakan bagian dari amanah.

  1. Agama sering dipahami melalui kacamata budaya patriarkal

Ini mungkin hambatan yang paling mendasar. Perempuan sering menerima pesan bahwa perempuan yang baik adalah yang “patuh”, “diam”, “menurut”, dan “tidak banyak bertanya”. Sementara keberanian, kepemimpinan, sikap kritis, dan kemandirian kadang dicurigai sebagai tanda perempuan sudah “terlalu bebas”.

Padahal kita perlu membedakan antara ajaran Islam dan konstruksi sosial tentang perempuan yang dibungkus dengan bahasa agama. Tidak semua yang disebut “ajaran agama” merupakan ajaran agama dalam pengertian yang sesungguhnya. Ada pula interpretasi manusia yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya zamannya.

  1. Kekhawatiran dianggap tidak salehah

Ini sangat kuat di kalangan perempuan. Mereka takut jika aktif di ruang publik, memimpin organisasi, memiliki karier, atau menyampaikan pendapat, mereka akan disebut: “terlalu ambisius,” “tidak feminin,” “tidak taat suami,” “kebarat-baratan,” atau bahkan “kurang agamanya.” Akibatnya, perempuan melakukan self-censorship: sebelum bertindak, ia sudah membatasi dirinya sendiri karena takut penilaian masyarakat.

  1. Ketergantungan ekonomi

Perempuan yang tidak mempunyai akses terhadap sumber daya ekonomi lebih sulit menentukan pilihan hidupnya. Ketika seluruh kebutuhan ekonomi bergantung kepada suami atau keluarga, perempuan bisa merasa tidak mempunyai posisi tawar. Karena itu, literasi keuangan, keterampilan kerja, kewirausahaan, dan akses terhadap sumber ekonomi sebenarnya merupakan bagian penting dari pemberdayaan perempuan.

Kemandirian ekonomi bukan berarti perempuan ingin mengalahkan laki-laki. Justru ia menciptakan hubungan yang lebih sehat karena relasi dibangun atas dasar kemitraan, bukan ketergantungan.

  1. Beban multi ganda

Perempuan yang masuk ke ruang publik sering tidak benar-benar dibebaskan dari pekerjaan domestik. Ia bekerja di luar rumah, tetapi ketika pulang tetap diharapkan mengurus rumah, anak, suami, orang tua, dan berbagai kebutuhan keluarga. Akibatnya muncul double burden bahkan multi burden. Yang menarik, persoalan ini sering dianggap sebagai “kodrat perempuan”, padahal sebagian besar pekerjaan domestik sebenarnya adalah pekerjaan sosial yang dapat dibagi secara adil.

  1. Kurangnya role model perempuan

Perempuan membutuhkan contoh nyata. Jika seorang anak perempuan hanya melihat perempuan di sekitarnya sebagai ibu rumah tangga yang harus selalu mengikuti keputusan laki-laki, ia akan sulit membayangkan dirinya sebagai ilmuwan, pemimpin, pengusaha, aktivis, akademisi, atau pengambil keputusan. Karena itu, kita perlu memperkenalkan lebih banyak figur Muslimah yang berilmu, berdaya, berintegritas, dan tetap memiliki kedalaman spiritual. Sejarah Islam sendiri memiliki banyak perempuan yang dapat menjadi inspirasi.

  1. Pendidikan agama yang lebih menekankan kepatuhan daripada kesadaran

Ini persoalan yang sangat penting. Jika pendidikan agama hanya mengajarkan: “Ini boleh, ini tidak boleh.” tanpa menjelaskan mengapa, perempuan tidak dibentuk menjadi manusia yang memahami nilai di balik ajaran. Akibatnya, agama dapat dirasakan sebagai kumpulan larangan. Pendidikan agama yang humanis seharusnya mengembangkan iman, akal, nurani, tanggung jawab, keadilan, dan kasih sayang. Perempuan perlu diajak memahami bahwa ketaatan bukan sekadar mengikuti aturan secara mekanis, tetapi menjalankan ajaran dengan kesadaran moral.

  1. Takut kepada perubahan

Sebagian perempuan sebenarnya mempunyai potensi besar, tetapi takut meninggalkan zona nyaman. Mereka berpikir: “Saya sudah begini saja.” atau: “Nanti kalau saya terlalu maju, keluarga saya bagaimana?” Ketakutan itu manusiawi. Karena itu pemberdayaan tidak boleh dilakukan dengan cara menyalahkan perempuan. Kita perlu membangun keberanian secara bertahap: berani belajar, berani berbicara, berani mengambil keputusan kecil, kemudian berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

  1. Konflik antara peran domestik dan publik

Ini sering dibuat sebagai pilihan: Perempuan harus memilih: menjadi perempuan baik atau menjadi perempuan berdaya. Padahal pertanyaannya seharusnya bukan “rumah atau publik?” tetapi: “Bagaimana perempuan dapat menjalankan berbagai perannya secara seimbang, dengan dukungan keluarga dan masyarakat?” Seorang perempuan tidak harus memilih antara menjadi ibu dan menjadi warga negara yang aktif. Yang diperlukan adalah pembagian peran yang adil dan dukungan sosial.

  1. Tafsir tentang “ketaatan” yang terlalu sempit

Menurut saya, ini perlu menjadi inti pembicaraan. Kita perlu bertanya: Taat kepada siapa? Jika seorang perempuan taat kepada Allah swt, apakah itu berarti ia harus kehilangan kemampuan berpikir? Tentu tidak. Jika ia menghormati suami, apakah berarti ia tidak boleh mempunyai pendapat? Tidak. Jika ia menghormati ulama, apakah berarti ia tidak boleh bertanya? Juga tidak.

Karena dalam Islam, manusia diberikan akal dan hati nurani untuk digunakan. Maka, ketaatan kepada Allah tidak seharusnya menghasilkan manusia yang kehilangan daya kritis dan martabatnya. Justru tauhid semestinya membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia.

Tips & trik menjadi perempuan Muslim berdaya

1.Mulailah dengan mengubah cara memandang diri sendiri.

Jangan melihat diri sebagai “perempuan yang harus selalu dibantu”, tetapi sebagai subjek yang memiliki akal, pilihan, kemampuan, dan tanggung jawab. Tanamkan dalam diri: “Saya berharga karena saya adalah manusia ciptaan Allah, bukan karena penilaian orang lain.”

2.Bedakan antara ajaran Islam dan kebiasaan masyarakat.

Setiap kali mendengar kalimat “perempuan tidak boleh begini”, jangan langsung menerimanya sebagai ajaran agama. Tanyakan: apa dasar agamanya, apa konteksnya, dan apakah prinsipnya sejalan dengan keadilan, kemaslahatan, dan martabat manusia?

  1. Jadikan belajar sebagai kebiasaan seumur hidup

Sisihkan waktu setiap hari untuk membaca, mengikuti diskusi, belajar teknologi, ekonomi, kesehatan, agama, atau bidang yang diminati. Ilmu adalah salah satu sumber keberanian. Perempuan yang berilmu lebih sulit dimanipulasi oleh siapa pun, termasuk dengan menggunakan nama agama.

  1. Latih keberanian mengambil keputusan kecil.

Tidak perlu langsung menjadi pemimpin besar. Mulailah dengan berani mengatakan pendapat dalam rapat, memilih sesuatu untuk diri sendiri, mengelola uang, mengemukakan ketidaksetujuan secara santun, atau mengambil tanggung jawab baru. Keberanian adalah otot: semakin dilatih, semakin kuat.

  1. Bangun kemandirian ekonomi

Pelajari cara mengelola keuangan, menabung, berinvestasi secara bijak, atau mengembangkan keterampilan yang dapat menghasilkan pendapatan. Tidak harus menjadi kaya. Yang penting adalah memiliki kemampuan dan daya tawar ekonomi.

  1. Jangan merasa bersalah karena memiliki cita-cita

Perempuan boleh memiliki mimpi. Boleh ingin kuliah lagi, bekerja, menjadi pemimpin, menulis buku, berorganisasi, membangun usaha, atau berkontribusi bagi masyarakat. Cita-cita bukan dosa. Yang penting adalah bagaimana cara mencapainya dan untuk apa keberhasilan itu digunakan.

  1. Bangun jaringan dengan perempuan lain

Jangan berjalan sendirian. Cari teman, mentor, komunitas, organisasi, atau kelompok belajar yang saling menguatkan. Perempuan akan jauh lebih kuat ketika menyadari: “Saya tidak sendirian. Ada perempuan lain yang sedang berjuang seperti saya.”

  1. Belajar berkata “tidak” dengan santun

Menjadi Muslimah yang baik bukan berarti selalu mengatakan iya kepada semua orang. Belajar mengatakan: “Maaf, saya tidak bisa.” “Saya mempunyai pertimbangan yang berbeda.” “Saya menghormati pendapat Anda, tetapi saya memilih jalan ini.” Menolak sesuatu yang tidak baik bagi diri sendiri bukan berarti durhaka atau tidak sopan.

  1. Jangan tinggalkan keluarga, tetapi jangan kehilangan diri sendiri

Keluarga tetap penting. Namun, mencintai keluarga tidak berarti menghapus seluruh kebutuhan dan potensi diri. Bangun budaya berbagi peran, bukan hanya “membantu perempuan”. Pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama.

  1. Jadikan ibadah sebagai sumber kekuatan, bukan sumber ketakutan

Salat, puasa, doa, zikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya seharusnya membuat kita semakin tenang, kuat, dan manusiawi. Setelah beribadah, tanyakan: Apakah saya menjadi manusia yang lebih baik bagi orang lain?” Jika iya, berarti spiritualitas kita telah bergerak dari ritual menuju akhlak.

Dan yang paling penting: jangan menunggu menjadi sempurna Jangan berkata: “Nanti kalau saya sudah percaya diri, baru saya berani.” Justru keberanian akan tumbuh setelah kita mulai berani. Jangan berkata: “Nanti kalau sudah banyak ilmu, baru saya berbicara.” Mulailah berbicara sambil terus belajar. Dan jangan berkata: “Saya perempuan biasa.” Sebab banyak perubahan besar dalam sejarah dimulai dari perempuan biasa yang memutuskan untuk tidak lagi mengecilkan dirinya sendiri.

Kesimpulan

Akhirnya, potret Muslimah berdaya dapat digambarkan sebagai berikut: semakin dekat kepada Allah swt, semakin kuat martabatnya; semakin berilmu, semakin luas manfaatnya; semakin berdaya, semakin besar kepeduliannya kepada sesama.

Perempuan Muslimah tidak perlu memilih antara kesalehan dan keberdayaan. Ia justru dapat menjadikan keberdayaan sebagai jalan menuju kesalehan dengan ilmu, kemandirian, keberanian, dan kepedulian yang semuanya berakar pada iman dan akhlaqul karimah.

Jadi, apa yang sebenarnya harus kita ubah? Menurut saya, kita perlu menggeser paradigma: Dari: “Perempuan yang baik adalah perempuan yang patuh.” Menjadi: “Perempuan yang baik adalah perempuan yang sadar kepada siapa ia bertanggung jawab, memahami nilai ajaran agamanya, mampu berpikir, dan menggunakan kebebasannya semata untuk kebaikan dan kemaslahatan.” Dari: “Perempuan harus dilindungi.” menjadi: “Perempuan harus diberdayakan agar mampu melindungi dan menentukan dirinya sendiri.” Dari: “Perempuan harus diarahkan.” menjadi: “Perempuan harus diberi ilmu agar mampu menentukan arah.” Dan dari: “Perempuan harus memilih antara keluarga dan masyarakat.” menjadi: “Perempuan dapat berkontribusi kepada keluarga sekaligus masyarakat dengan dukungan relasi yang adil.”

Pada akhirnya, tujuan pemberdayaan perempuan Muslim bukan menjadikan perempuan seperti laki-laki. Bukan pula menjadikan perempuan meninggalkan ajaran agama. Tujuannya adalah memungkinkan perempuan menjadi manusia seutuhnya: beriman, berilmu, mandiri, bermartabat, mampu mengambil keputusan, memiliki kepedulian sosial, dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.

The Art of Being Muslim Women menyimpulkan bahwa kita tidak sedang mengajak perempuan memilih antara menjadi salehah atau menjadi berdaya. Kita sedang mengembalikan pemahaman bahwa menjadi perempuan yang berdaya, bermartabat, berilmu, dan bermanfaat justru merupakan salah satu bentuk kesalehan yang diajarkan Islam.”

Wallahu a’lam bisshawab.

Terkini