|

Muslimah Reformis

Tiga Puluh Tahun Jurnal Perempuan: Menjaga Api Intelektual, Merawat Keberanian, Mengawal Keadilan

BAGIKAN

Tiga Puluh Tahun Jurnal Perempuan: Menjaga Api Intelektual,

Merawat Keberanian, Mengawal Keadilan

Oleh: Musdah Mulia

Selamat ulang tahun yang ke-30 untuk Jurnal Perempuan.

Tiga puluh tahun bukan usia yang pendek bagi sebuah jurnal. Terlebih bagi sebuah jurnal yang memilih jalan yang tidak selalu mudah: jalan pemikiran kritis, jalan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan: kesetaraan dan keadilan, jalan pembelaan terhadap kelompok rentan dan terpinggirkan, serta jalan intelektual yang tidak selalu nyaman bagi kekuasaan maupun bagi sebagian masyarakat.

Karena itu, hari ini saya tidak ingin sekadar mengucapkan selamat ulang tahun.

Saya ingin mengajak kita semua bertanya: mengapa Jurnal Perempuan harus terus hidup? Dan untuk apa ia harus diperjuangkan? Bagi saya, jawabannya sederhana tetapi sangat mendasar: Karena masyarakat yang kehilangan tradisi berpikir kritis adalah masyarakat yang sangat mudah kehilangan kebebasannya. Dan Jurnal Perempuan selama tiga puluh tahun telah ikut menjaga tradisi itu.

Jurnal Perempuan dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa

Ada satu alasan lagi mengapa keberadaan Jurnal Perempuan harus kita pertahankan.

Alasan itu jauh lebih besar daripada keberlangsungan sebuah organisasi. Ia berkaitan dengan cita-cita kebangsaan kita. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan salah satu tujuan negara Indonesia: “mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat itu sering kita dengar. Tetapi barangkali kita belum cukup sering bertanya:

Apa sebenarnya makna “mencerdaskan kehidupan bangsa”?

Apakah mencerdaskan bangsa hanya berarti membangun sekolah?

Apakah hanya berarti memperbanyak universitas?

Saya kira tidak. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti membangun manusia yang mampu membaca realitas, berpikir kritis, membedakan informasi dan disinformasi, menghargai perbedaan, menggunakan akal sehat, mengedepankan empati, mempertanyakan ketidakadilan, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.

Dengan kata lain: bangsa yang cerdas bukan ditentukan oleh banyaknya orang memiliki gelar akademik. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang masyarakatnya memiliki kemampuan berpikir kritis, dan itu tidak mungkin tumbuh tanpa budaya membaca.

Karena itu, literasi sesungguhnya bukan urusan kecil. Ia bukan sekadar program kementerian. Bukan sekadar proyek perpustakaan. Literasi adalah infrastruktur peradaban. Masyarakat yang tidak membaca akan lebih mudah percaya hoaks. Masyarakat yang tidak terbiasa berpikir kritis akan lebih mudah dimobilisasi oleh kebencian. Masyarakat yang tidak memiliki tradisi dialog akan lebih mudah terpecah oleh perbedaan. Di sinilah saya melihat posisi Jurnal Perempuan menjadi sangat penting.

Ketika JP menerbitkan tulisan yang serius, melakukan penelitian, membuka ruang bagi perspektif yang berbeda, dan mengajak masyarakat mempertanyakan ketidakadilan, sesungguhnya JP sedang melakukan kerja-kerja kebangsaan sekaligus kemanusiaan yang hakiki, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mungkin skalanya kecil. Mungkin jumlah pembacanya tidak sebesar media sosial.

Mungkin satu edisi hanya dibaca oleh kelompok tertentu. Tetapi jangan pernah meremehkan kekuatan gagasan. Satu gagasan yang benar dapat mengubah cara seseorang melihat dunia. Dan satu orang yang berubah cara berpikirnya, dapat mengubah banyak kehidupan di sekitarnya.

Jangan pernah melihat JP hanya sebagai sebuah jurnal kecil yang setiap penerbitannya harus berjuang mencari dana. Jangan merasa kalian sedang mengelola sebuah jurnal kecil dengan dana terbatas. Lihatlah ia dalam perspektif yang lebih besar. Kalian sedang merawat sebuah tradisi intelektual yang dibutuhkan bangsa.

Karena itu, jangan ukur keberhasilan JP hanya dari jumlah eksemplar yang terjual. Ukur juga dari berapa banyak kesadaran yang berhasil dibangunkan. Berapa banyak orang yang setelah membaca JP menjadi lebih kritis. Berapa banyak perempuan yang setelah membaca JP merasa bahwa dirinya berharga. Berapa banyak anak muda yang setelah membaca JP berani mempertanyakan ketidakadilan. Berapa banyak orang yang sebelumnya membenci kelompok minoritas kemudian belajar memahami. Dan berapa banyak orang yang akhirnya menyadari bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kenyataan kehidupan yang harus kita kelola dengan keadilan dan kemanusiaan. Itulah sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah jurnal seperti Jurnal Perempuan.

Tiga puluh tahun bukan sekadar usia

Kita patut bersyukur bahwa Jurnal Perempuan mampu bertahan selama tiga dekade.

Di tengah masyarakat yang budaya membacanya belum kuat, di tengah perubahan teknologi yang luar biasa cepat, di tengah dominasi media sosial yang sering mengutamakan kecepatan daripada kedalaman, dan di tengah semakin kuatnya budaya instant opinion, Maka keberadaan sebuah jurnal yang meminta masyarakat berhenti sejenak, membaca, berpikir, mempertanyakan, dan merefleksikan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Lebih dari itu, Jurnal Perempuan bukanlah jurnal yang hidup dari kekuatan modal besar. Ia tumbuh dari idealisme. Ia bertahan karena ada orang-orang yang percaya bahwa gagasan mempunyai kekuatan untuk mengubah masyarakat. Dan saya kira, justru di situlah kebesaran Jurnal Perempuan.

Sebab sebuah lembaga intelektual tidak selalu diukur dari seberapa besar gedungnya, seberapa banyak anggarannya, atau seberapa besar jumlah pengikutnya.

Kadang-kadang ukuran sebuah lembaga justru terletak pada seberapa berani ia mempertahankan pertanyaan yang tidak ingin didengar oleh banyak orang.

Selama tiga puluh tahun, Jurnal Perempuan telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Mengapa perempuan masih diperlakukan tidak adil? Mengapa tubuh perempuan begitu mudah dikontrol? Mengapa agama kadang-kadang digunakan untuk membenarkan subordinasi perempuan? Mengapa kelompok minoritas harus terus-menerus meminta izin untuk menjadi manusia yang setara? Mengapa keberagaman sering dianggap sebagai ancaman? Dan mengapa suara mereka yang berbeda begitu mudah dibungkam? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu populer. Tetapi justru karena itulah ia penting.

Kita sadar bahwa selama perjalanan panjangnya, Jurnal Perempuan tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Ia pernah disebut liberal. Sekuler dan banyak lagi.

Bahkan mungkin dianggap terlalu Barat, terlalu progresif, terlalu membela kelompok tertentu, atau terlalu berani mempertanyakan tafsir keagamaan yang sudah dianggap mapan. Termasuk ketika Jurnal Perempuan berbicara mengenai hak-hak kelompok minoritas, termasuk kelompok LGBT.

Tetapi saya ingin berpesan kepada generasi baru pengelola Jurnal Perempuan: Jangan takut pada label. Label sering kali adalah cara paling sederhana untuk menghentikan sebuah pemikiran tanpa harus menjawab argumennya. Ketika seseorang tidak mampu menjawab gagasan, biasanya paling mudah memilih untuk memberikan label negatif. Tetapi tugas seorang intelektual bukanlah sibuk membalas label. Tugas seorang intelektual adalah terus bekerja dengan argumentasi, data, pengetahuan, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan pernah merasa bersalah hanya karena Jurnal Perempuan bersikap kritis.

Kritis bukan berarti membenci.

Mengkritisi kebijakan pemerintah bukan berarti benci. Mempertanyakan tafsir bukan berarti menolak Tuhan. Membela perempuan bukan berarti memusuhi laki-laki.Membela minoritas bukan berarti membenci mayoritas.

Dan memperjuangkan hak kelompok yang berbeda bukan berarti kita harus menyetujui seluruh pilihan hidup mereka. Di sinilah kedewasaan intelektual diperlukan.

Jangan biarkan keadilan gender berhenti menjadi slogan. Generasi baru Jurnal Perempuan akan menghadapi tantangan yang mungkin jauh lebih rumit daripada yang kami hadapi tiga puluh tahun lalu. Dulu, perjuangan dilakukan terutama melalui buku, jurnal, diskusi, seminar, dan ruang-ruang akademik.

Sekarang medan pertarungannya telah berpindah. Ia ada di Instagram. Di TikTok, YouTube, podcast, algoritma, artificial intelligence. Di ruang digital yang tidak mengenal batas geografis.

Tetapi persoalan dasarnya belum selesai. Perempuan masih menghadapi kekerasan.

Diskriminasi masih berlangsung. Tubuh perempuan masih menjadi arena kontrol sosial dan politik. Kelompok minoritas masih menghadapi stigma. Dan agama masih dapat digunakan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja untuk mempertahankan relasi kuasa yang tidak adil. Karena itu, generasi baru Jurnal Perempuan tidak boleh hanya menjadi generasi yang mewarisi isu.

Kalian harus menjadi generasi yang menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

Apa yang terjadi dengan perempuan dalam ekonomi digital? Bagaimana kecerdasan buatan dapat memperkuat atau justru mengurangi bias gender?

Bagaimana algoritma memproduksi standar kecantikan baru?

Bagaimana cyber violence menyerang perempuan?

Bagaimana teknologi digunakan untuk mengontrol tubuh dan kehidupan perempuan?

Bagaimana perubahan iklim memengaruhi perempuan miskin?

Bagaimana perang, migrasi, dan konflik agama memengaruhi perempuan?

Bagaimana demokrasi yang semakin rentan berdampak pada kelompok minoritas?

Dan yang tidak kalah penting: Bagaimana kita memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat kemanusiaan kita justru mundur?

Inilah wilayah baru yang harus dijelajahi.

Jangan takut menjadi minoritas dalam pemikiran

Ada satu pesan yang sangat ingin saya titipkan kepada teman-teman generasi baru.

Jangan takut menjadi minoritas dalam pemikiran.

Dalam sejarah peradaban manusia, banyak perubahan besar pada awalnya diperjuangkan oleh orang-orang yang jumlahnya sedikit. Penghapusan perbudakan dahulu bukan gagasan mayoritas.

Hak perempuan untuk memperoleh pendidikan bukan gagasan mayoritas.

Hak perempuan untuk memilih bukan gagasan mayoritas.

Kesetaraan ras bukan gagasan mayoritas.

Kebebasan beragama bukan selalu gagasan mayoritas.

Bahkan banyak gagasan yang sekarang kita anggap sebagai sesuatu yang normal, dahulu dianggap sebagai gagasan yang berbahaya.

Karena itu, ukuran kebenaran tidak pernah semata-mata ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya.

Mayoritas dapat salah. Minoritas dapat benar. Begitu sebaliknya!

Jangan hanya menjaga JP, kembangkan JP

Kepada teman-teman generasi baru pengelola Jurnal Perempuan, saya ingin mengatakan: Jangan hanya mempertahankan apa yang sudah dibangun para pendahulu. Tetapi, Kembangkan, Kritik, dan Perbarui. Bahkan kalau perlu, tinggalkan sebagian cara lama yang sudah tidak relevan. Sebab kesetiaan kepada sebuah lembaga bukan berarti mempertahankan semua hal yang lama.

Kesetiaan yang sejati adalah menjaga nilai sambil berani mengubah cara.

Jangan takut bereksperimen. Bawa Jurnal Perempuan ke ruang digital. Temui Generasi Z. Temui Generasi Alpha. Buat mereka tertarik membaca. Gunakan bahasa baru tanpa kehilangan substansi. Gunakan teknologi tanpa kehilangan integritas.

Gunakan media sosial tanpa menjadi tawanan algoritma.

Dan yang paling penting: Jangan pernah menukar kedalaman pemikiran dengan popularitas.

Kita hidup dalam zaman ketika sesuatu dianggap benar hanya karena viral.

Sesuatu dianggap penting hanya karena banyak likes.

Seseorang dianggap pintar hanya karena memiliki banyak pengikut.

Jurnal Perempuan harus mengambil posisi yang berbeda.

Kita tidak mengejar viralitas. Kita mengejar validitas.

Kita tidak mengejar popularitas. Kita mengejar integritas.

Kita tidak sekadar ingin didengar. Kita ingin memberikan alasan kepada masyarakat untuk berpikir. Idealisme harus bertemu dengan keberlanjutan.

Ada satu hal lagi yang ingin saya titipkan, dan ini mungkin bagian yang paling realistis sekaligus paling berat. Jurnal Perempuan tidak hidup dalam ruang yang ideal. Kita tahu, honor yang diterima para pengelola dan pekerja JP tidak selalu sebanding dengan energi, waktu, keahlian, dan pengorbanan yang mereka curahkan.

Dana penerbitan pun terbatas. Bahkan sering kali tidak menentu dari satu edisi ke edisi berikutnya.

Karena itu, kepada generasi baru saya ingin mengatakan: Jangan romantisasi kesulitan. Jangan menganggap bahwa karena kita bekerja untuk sebuah cita-cita besar, maka kita harus selamanya hidup dalam keterbatasan. Idealisme memang penting. Tetapi idealisme harus bertemu dengan keberlanjutan. Orang-orang yang bekerja di Jurnal Perempuan juga harus dapat hidup layak. Sebab kita tidak mungkin meminta generasi muda mengabdikan seluruh energi intelektualnya kepada sebuah lembaga jika lembaga itu tidak mampu memberikan penghargaan yang pantas atas kerja mereka.

Jadi, tantangan generasi baru bukan hanya: Bagaimana mempertahankan Jurnal Perempuan? Tetapi juga: Bagaimana membuat Jurnal Perempuan mampu membiayai keberlanjutan perjuangannya sendiri? Ini adalah pertanyaan strategis yang harus dijawab dengan kreativitas. Kita perlu membangun sebanyak mungkin sumber pendanaan, tanpa kehilangan independensi editorial.

Tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh ditawar: uang boleh membantu JP bertahan, tetapi uang tidak boleh menentukan apa yang harus JP pikirkan dan tuliskan. Independensi intelektual adalah modal terbesar Jurnal Perempuan. Generasi baru harus mampu menjadi aktivis sekaligus manajer, intelektual sekaligus inovator, penjaga nilai sekaligus pembangun institusi. Itulah tantangan zaman sekarang.

Generasi kalian harus membawa JP ke tahap berikutnya: dari sekadar bertahan hidup menjadi tumbuh; dari sekadar mencari dana menjadi membangun ekosistem pendanaan; dari sekadar mengandalkan donor menjadi memiliki basis komunitas yang kuat; dan dari sekadar mempertahankan penerbitan menjadi membangun institusi pengetahuan yang berkelanjutan.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika JP memasuki usia 40, 50, bahkan 60 tahun, orang tidak lagi bertanya: “Apakah JP masih bisa terbit tahun ini?” Tetapi orang bertanya: “Apa lagi gagasan besar yang akan dilahirkan Jurnal Perempuan?” Itulah perubahan yang harus kalian perjuangkan. Dan saya percaya kalian mampu melakukannya. Sebab kalian memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang: warisan tiga puluh tahun keberanian intelektual. Keberanian untuk tetap merdeka.

Penutup: tiga puluh tahun berikutnya

Tiga puluh tahun pertama Jurnal Perempuan adalah sejarah tentang bagaimana sebuah idealisme mampu bertahan. Tiga puluh tahun berikutnya harus menjadi sejarah tentang bagaimana idealisme itu tumbuh menjadi kekuatan intelektual yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan peradaban manusia.

Akhirnya, mari kita berjanji bahwa selama masih ada ketidakadilan terhadap perempuan, selama masih ada diskriminasi terhadap minoritas, selama masih ada suara yang dibungkam, dan selama masih ada manusia yang diperlakukan tidak setara Jurnal Perempuan akan tetap punya alasan untuk hadir.

Selamat ulang tahun ke-30, Jurnal Perempuan.

Teruslah menjadi suara yang kritis. Teruslah menjadi ruang bagi mereka yg merdeka secara intelektual. Teruslah menjadi rumah bagi mereka yang penuh empati dan berani berpikir rasional. Terimakasih.

Terkini