|

Muslimah Reformis

THE ART OF BEING MUSLIM WOMEN Menjadi Perempuan Berdaya dalam Spirit Islam yang Humanis

BAGIKAN

THE ART OF BEING MUSLIM WOMEN

Menjadi Perempuan Berdaya dalam Spirit Islam yang Humanis

Oleh: Musdah Mulia

 

Pendahuluan: Menjadi Muslimah adalah Seni Menjalani Kehidupan

Menjadi perempuan Muslim bukan sekadar persoalan bagaimana menjalankan sejumlah aturan agama. Ia adalah sebuah seni menjalani kehidupan: bagaimana menjadi manusia yang beriman, bermartabat, berilmu, mandiri, bermanfaat, sekaligus tetap memiliki kedalaman spiritual dan kedekatan dengan Allah swt.

Dalam perjalanan sejarah, perempuan Muslim sering kali ditempatkan dalam pilihan yang seolah-olah berlawanan: jika ingin menjadi perempuan salehah, ia harus lebih banyak berada di ranah domestik; jika aktif di ruang publik, dianggap terlalu bebas; jika memiliki karier dan posisi kepemimpinan, dicurigai telah meninggalkan kodrat; jika kritis dan bersuara lantang, dianggap kurang patuh. Padahal, dikotomi semacam itu tidak selalu berasal dari pesan dasar Islam. Banyak di antaranya lahir dari konstruksi sosial, budaya patriarkal, serta penafsiran keagamaan yang berkembang dalam konteks sejarah tertentu.

Islam hadir dengan pesan yang jauh lebih luas: manusia diciptakan sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Amanah kekhalifahan itu tidak diberikan hanya kepada laki-laki. Perempuan juga manusia yang memiliki akal, hati nurani, kehendak, tanggung jawab moral, dan kemampuan untuk berbuat baik bagi kehidupan. Karena itu, menjadi Muslimah yang baik tidak berarti membelenggu dan mengecilkan diri. Sebaliknya, menjadi Muslimah berarti mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dianugerahkan Allah swt dan menggunakannya semata untuk menghadirkan kemaslahatan.

  1. Keberdayaan Perempuan Bukan Lawan dari Ketaatan

Sering kali keberdayaan perempuan dipahami secara sempit sebagai kemampuan untuk mandiri secara ekonomi, memiliki jabatan, berpendidikan tinggi, atau mampu mengambil keputusan sendiri. Semua itu memang penting. Namun, keberdayaan dalam perspektif Islam yang humanis jauh lebih dalam.

Perempuan berdaya adalah perempuan yang mengenal dirinya, memahami hak dan tanggung jawabnya, mampu berpikir kritis, memiliki keberanian mengambil keputusan, mampu mengelola kehidupannya, dan tidak mudah diperlakukan secara tidak adil. Lebih dari itu, perempuan berdaya adalah perempuan yang mampu mengatakan “ya” ketika sesuatu memang baik dan mampu mengatakan “tidak” ketika sesuatu merendahkan martabat kemanusiaannya. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah tidak identik dengan kepasrahan kepada manusia. Ini prinsip yang sangat penting.

Seorang perempuan Muslim wajib taat kepada Allah, sang Maha Pencipta, tetapi ketaatan itu tidak boleh diterjemahkan menjadi kepatuhan tanpa batas kepada laki-laki, keluarga, tokoh agama, atau struktur sosial yang tidak adil. Justru karena ia bertauhid, seorang Muslimah memiliki kebebasan moral. Ia tidak boleh menjadikan manusia sebagai “tuhan kecil” yang menentukan seluruh hidupnya. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Dengan demikian, perempuan yang berdaya bukan perempuan yang kurang taat. Ia justru dapat menjadi perempuan yang memahami makna ketaatan secara lebih dewasa dan lebih kaffah.

  1. Islam Tidak Meminta Perempuan Menghilangkan Dirinya

Salah satu persoalan yang sering dialami perempuan adalah rasa bersalah. Perempuan merasa bersalah ketika bekerja. Merasa bersalah ketika belajar. Merasa bersalah ketika memiliki cita-cita. Merasa bersalah ketika menikmati keberhasilan. Bahkan merasa bersalah ketika menggunakan waktu untuk dirinya sendiri. Seolah-olah perempuan yang baik adalah perempuan yang selalu mendahulukan semua orang dan menempatkan dirinya paling terakhir. Padahal manusia tidak diciptakan untuk menghapus dirinya.

Islam mengajarkan keseimbangan. Dalam Al-Qur’an terdapat prinsip bahwa manusia tidak boleh melupakan bagiannya dalam kehidupan dunia, sementara tetap mengejar kehidupan akhirat. Karena itu, merawat kesehatan, mengembangkan intelektualitas, meningkatkan keterampilan, membangun kemandirian ekonomi, memperluas jaringan sosial, membaca, belajar, berkarya, dan berkontribusi kepada masyarakat bukanlah tindakan yang bertentangan dengan kesalehan. Justru semuanya dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar.

Perempuan tidak harus kehilangan dirinya untuk menjadi perempuan salehah. Ia boleh menjadi ibu sekaligus intelektual. Ia boleh menjadi istri sekaligus pemimpin. Ia boleh menjadi pengurus organisasi sekaligus pencinta keluarganya. Ia boleh memiliki karier sekaligus kehidupan spiritual yang mendalam. Identitas perempuan tidak harus dipertentangkan. Ia dapat menjalani berbagai peran secara kreatif sesuai konteks kehidupannya.

  1. Kesalehan Bukan Sekadar Kesalehan Individual

Kita sering memahami kesalehan sebagai hubungan seseorang dengan Tuhan dalam arti sempit: rajin beribadah, berdoa, membaca Al-Qur’an, berpuasa, dan menjalankan ritual keagamaan. Semua itu penting. Namun, Islam yang humanis mengingatkan bahwa kesalehan tidak berhenti pada ritual. Apa arti ibadah jika seseorang masih senang merendahkan orang lain? Apa arti kesalehan jika seseorang tidak peduli pada ketidakadilan? Apa arti kesalehan jika perempuan masih dianggap lebih rendah daripada laki-laki? Apa arti keberagamaan jika agama justru digunakan untuk membenarkan kekerasan?

Karena itu, kesalehan seorang Muslimah seharusnya memiliki dimensi sosial. Ia bukan hanya perempuan yang dekat dengan Allah, tetapi juga perempuan yang menghadirkan kebaikan bagi manusia. Ia memiliki kepedulian terhadap kemiskinan, pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, ketidakadilan, lingkungan, perdamaian, dan masa depan generasi. Di sinilah keberdayaan perempuan menjadi bagian dari kesalehan sosial.

  1. Ilmu adalah Sumber Keberdayaan

Salah satu jalan terpenting menuju keberdayaan perempuan adalah pendidikan. Perempuan yang berpendidikan bukan hanya memiliki lebih banyak pengetahuan. Ia memiliki kemampuan untuk memahami dunia, membaca perubahan, mempertanyakan ketidakadilan, mengambil keputusan, dan menentukan masa depannya.

Karena itu, perempuan Muslim harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak ada usia yang terlalu tua untuk belajar. Belajar agama. Belajar ilmu pengetahuan. Belajar teknologi. Belajar ekonomi. Belajar komunikasi. Belajar memahami masyarakat. Belajar memahami dirinya sendiri.

Perempuan yang berilmu tidak mudah ditakut-takuti atas nama agama karena ia memiliki kemampuan untuk berpikir dan mencari pemahaman. Di sinilah pentingnya membangun budaya iqra’, membaca, memahami, meneliti, dan terus mencari pengetahuan. Islam tidak memuliakan kebodohan. Karena itu, menjadikan perempuan terdidik adalah bagian dari membangun masyarakat Muslim yang sehat.

  1. Mandiri Secara Ekonomi, Mulia Secara Moral

Kemandirian ekonomi juga merupakan bagian penting dari keberdayaan perempuan. Perempuan yang memiliki kemampuan ekonomi memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan kehidupannya. Ia tidak mudah terjebak dalam relasi yang eksploitatif hanya karena ketergantungan ekonomi. Namun, kemandirian ekonomi tidak boleh berubah menjadi materialisme.

Islam mengajarkan bahwa harta adalah sarana, bukan tujuan akhir kehidupan. Maka, perempuan Muslim yang berdaya bukan sekadar perempuan yang mampu menghasilkan uang, tetapi perempuan yang mampu menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk kehidupan yang bermartabat. Ia bekerja bukan semata-mata untuk mengejar kekayaan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan, mengembangkan potensi, membantu keluarga, menciptakan lapangan kerja, membantu orang lain, dan berkontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, ekonomi menjadi instrumen kemaslahatan.

  1. Berani Memimpin, Tanpa Kehilangan Empati

Kepemimpinan perempuan juga sering menjadi wilayah yang penuh perdebatan. Padahal kepemimpinan tidak selalu berarti menduduki jabatan politik atau posisi formal. Seorang ibu yang mendidik anaknya adalah pemimpin. Seorang guru yang mengubah masa depan muridnya adalah pemimpin. Seorang aktivis yang membela korban ketidakadilan adalah pemimpin. Seorang pengurus koperasi yang memperjuangkan kesejahteraan anggota adalah pemimpin.
Seorang perempuan yang menginspirasi lingkungannya untuk hidup lebih baik adalah pemimpin.

Karena itu, jangan membatasi makna kepemimpinan perempuan hanya pada jabatan, apalagi sekadar jabatan politik. Kepemimpinan yang paling penting adalah kemampuan memberikan arah, menghadirkan solusi, mengambil tanggung jawab, dan membawa manfaat.

Dan kepemimpinan perempuan memiliki kekuatan yang sangat khas: empati. Empati bukan kelemahan. Kemampuan mendengarkan, merawat, memahami perasaan orang lain, membangun dialog, dan mencari solusi yang tidak merendahkan pihak lain justru sangat dibutuhkan dalam dunia yang semakin penuh konflik. Kita membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya kuat, tetapi juga manusiawi.

  1. Taat kepada Allah swt, tetapi Tetap Merdeka sebagai Manusia

Ada paradoks yang indah dalam Islam: Semakin seseorang memahami tauhid, semakin ia seharusnya terbebas dari penghambaan kepada selain Allah swt.

Maka seorang Muslimah dapat mengatakan: Saya taat kepada Allah swt, tetapi saya tidak rela diperlakukan secara tidak manusiawi. Saya menghormati suami, tetapi saya bukan milik suami. Saya mencintai keluarga, tetapi saya juga memiliki kehidupan dan tanggung jawab sosial. Saya menghormati ulama, tetapi saya tetap memiliki akal untuk berpikir. Saya menghormati tradisi, tetapi saya boleh mengkritik tradisi yang melahirkan ketidakadilan. Saya mencintai agama, tetapi saya tidak akan menggunakan agama untuk menyakiti manusia. Inilah bentuk kedewasaan beragama. Ketaatan kepada Allah tidak menghapus martabat manusia. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah seharusnya memperkuat martabat manusia.

  1. Menjadi Muslimah yang Membawa Rahmat

Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, keberagamaan yang kita bangun seharusnya juga menghadirkan rahmat.

Muslimah yang humanis adalah perempuan yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman. Ia tidak mudah menghakimi. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci. Ia tidak merasa dirinya paling suci. Ia mampu berbeda tanpa bermusuhan. Ia mampu berdebat tanpa menghina. Ia mampu memperjuangkan keyakinannya tanpa merampas hak orang lain. Inilah wajah Islam yang sangat dibutuhkan dunia hari ini: Islam yang beriman sekaligus berperikemanusiaan.

  1. The Art of Being Muslim Women

Pada akhirnya, The Art of Being Muslim Women bukanlah seni untuk menjadi perempuan yang sempurna. Tidak ada perempuan yang sempurna. Seni menjadi Muslimah adalah seni menerima bahwa kita adalah manusia yang terus belajar. Kadang kita kuat, kadang kita lelah. Kadang kita berhasil, kadang kita gagal. Kadang kita sangat dekat dengan Allah, kadang kita merasa jauh. Yang penting adalah terus kembali, terus belajar, terus bertumbuh, dan terus memperbaiki diri.

Menjadi Muslimah bukan tentang memenuhi seluruh harapan masyarakat terhadap perempuan. Menjadi Muslimah adalah menemukan jalan hidup yang membuat kita semakin dekat kepada Allah sekaligus semakin berguna bagi manusia.

Karena itu, perempuan Muslim tidak perlu memilih antara iman dan keberdayaan. Ia dapat memiliki keduanya. Ia dapat menjadi perempuan yang taat tanpa kehilangan kebebasannya. Ia dapat menjadi perempuan yang kuat tanpa kehilangan kelembutannya. Ia dapat menjadi perempuan yang kritis tanpa kehilangan kesantunannya. Ia dapat menjadi perempuan yang mandiri tanpa kehilangan kepeduliannya. Ia dapat menjadi perempuan yang sukses tanpa kehilangan kerendahan hatinya. Dan ia dapat menjadi perempuan yang berani berada di ruang publik tanpa harus merasa bahwa dirinya telah meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Penutup: Jadilah Perempuan yang Menghidupkan Islam

Barangkali pertanyaan terpenting bagi seorang Muslimah bukanlah: “Apakah saya sudah terlihat cukup salehah?” Melainkan: “Apakah kehadiran saya membuat kehidupan menjadi lebih baik?” Apakah keluarga menjadi lebih bahagia karena kehadiran saya? Apakah masyarakat menjadi lebih adil karena kontribusi saya? Apakah perempuan lain menjadi lebih berani karena saya memberi teladan? Apakah orang yang berbeda dengan saya tetap merasa aman berada di dekat saya? Apakah ilmu yang saya miliki membawa manfaat? Apakah keberhasilan saya membuka jalan bagi perempuan lain? Jika jawabannya ya, maka di situlah kita menemukan makna terdalam dari keberagamaan.

Sebab Islam bukan hanya agama yang ingin kita anut, tetapi nilai-nilai yang harus kita hidupkan. Dan perempuan Muslim bukan hanya perempuan yang menjalankan agama untuk dirinya sendiri. Ia dapat menjadi perempuan yang menghidupkan nilai-nilai Islam melalui kehidupan nyata: melalui ilmu, kasih sayang, keadilan, keberanian, kepedulian, kepemimpinan, dan kemanusiaan.

Inilah seni menjadi Muslimah: taat kepada Allah, merdeka sebagai manusia, berdaya dalam kehidupan, dan menjadi rahmat bagi sesama.

Bukan menjadi perempuan yang kehilangan dirinya demi memenuhi tafsir orang lain tentang kesalehan, melainkan menjadi perempuan yang menemukan dirinya di hadapan Allah swt, lalu menggunakan seluruh potensi dirinya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Wallahu a’lam bisshawab.

Terkini