|

Muslimah Reformis

Keberagamaan Spiritual & Keindonesiaan, Taushiyah Mengenang Danny Irawan Yatim

BAGIKAN

Keberagamaan Spiritual & Keindonesiaan

Taushiyah Mengenang Danny Irawan Yatim

Oleh: Musdah Mulia

Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk mengucapkan selamat jalan kepada seorang sahabat. Kita berkumpul untuk mengenang sebuah perjalanan manusia.

Perjalanan seorang pencari kebenaran. Seorang manusia yang tidak mudah puas dengan jawaban-jawaban yang sederhana terhadap pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan:

Siapakah manusia?
Untuk apa kita hidup?
Apa arti keberagamaan?
Di mana Tuhan berada dalam kehidupan manusia?
Dan, pada akhirnya, apa yang membuat hidup kita layak dikenang?

Danny adalah seorang pencari kebenaran. Dan menurut saya, menjadi pencari kebenaran bukanlah perjalanan yang mudah. Sebab orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran harus berani bertanya, bahkan ketika pertanyaan tersebut membuat dirinya tidak nyaman.

Ia harus berani menembus batas-batas yang selama ini dianggap mapan.

Dan yang lebih sulit lagi, ia harus mempunyai kerendahan hati untuk mengakui: “Mungkin saya belum tahu.”

Hadirin yang saya muliakan, Kita sering memahami keberagamaan terutama sebagai identitas.

Saya Muslim.
Saya Kristen.
Saya Katolik.
Saya Hindu.
Saya Buddha.
Saya Konghucu.

Identitas itu penting. Tetapi identitas agama belum tentu sama dengan kedalaman spiritual. Seseorang dapat sangat religius secara formal, tetapi belum tentu secara spiritual. Sebaliknya, seseorang dapat melakukan perjalanan spiritual yang panjang dan mendalam, justru karena ia terus-menerus bertanya tentang makna kehidupan, tentang Tuhan, tentang kebaikan, tentang penderitaan, dan tentang sesamamanusia.

Di sinilah saya melihat perjalanan Danny menjadi sangat bermakna.

Ia tidak berhenti pada pertanyaan: “Agama apa yang paling benar?” Tetapi bergerak menuju pertanyaan yang jauh lebih dalam: “Bagaimana kebenaran itu membuat manusia menjadi lebih baik?”

Sebab kalau keberagamaan tidak membuat manusia lebih mencintai,

kalau agama tidak membuat manusia lebih adil,

kalau agama tidak membuat kita lebih menghormati martabat manusia,

kalau agama justru membuat kita mudah membenci orang yang berbeda,

maka barangkali kita perlu bertanya kembali: Apakah kita sedang mendekati Tuhan, atau justru sedang menjauh dari-Nya?

Al-Qur’an memberikan sebuah prinsip yang sangat indah: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Perhatikan kata yang digunakan: lita’arafu, agar kamu saling mengenal. Bukan agar kamu saling membenci. Bukan agar kamu saling meniadakan. Bukan agar satu kelompok merasa paling suci dan kelompok lain dianggap tidak berharga.

Melainkan: agar kita saling mengenal. Dan pengenalan yang sejati membutuhkan kerendahan hati. Sebab semakin kita mengenal manusia, semakin kita menyadari bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada label-label yang kita tempelkan kepadanya.

Semangat yang sama sebenarnya dapat kita temukan dalam berbagai tradisi agama.

Dalam Injil kita mengenal pesan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam tradisi Buddha, kita mengenal metta cinta kasih yang tidak diskriminatif. Dalam Hindu terdapat ajaran Vasudhaiva Kutumbakam bahwa dunia pada hakikatnya adalah satu keluarga. Dalam Khonghucu kita mengenal prinsip jangan lakukan kepada orang lain sesuatu yang tidak ingin kamu alami sendiri. Dan dalam Islam, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa seseorang belum sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Bahasanya berbeda.

Tradisinya berbeda.

Sejarahnya berbeda.

Tetapi kita menemukan satu benang merah: agama yang matang selalu mengarah kepada kemanusiaan. Karena itu, spiritualitas yang sejati bukanlah pelarian dari dunia.

Spiritualitas justru membuat kita lebih hadir di tengah dunia.

Lebih peka terhadap penderitaan.

Lebih peduli terhadap mereka yang lemah.

Lebih berani membela yang tidak berdaya.

Lebih lembut kepada mereka yang terluka.

Dan lebih rendah hati kepada mereka yang berbeda.

Di sinilah keberagamaan spiritual bertemu dengan keindonesiaan.

Indonesia bukan negara yang dibangun dari keseragaman. Indonesia lahir dari keberagaman. Kita berbeda agama. Berbeda suku. Berbeda bahasa. Berbeda budaya. Berbeda cara berdoa.

Tetapi kita memilih untuk hidup sebagai satu bangsa.

Karena itu, menjadi Indonesia sesungguhnya adalah sebuah latihan spiritual.

Kita belajar menerima bahwa kebenaran yang kita yakini tidak memberi kita hak untuk merendahkan manusia lain.

Kita belajar bahwa mencintai tanah air tidak berarti membenci orang yang berbeda.

Kita belajar bahwa Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan di sekolah.

Pancasila adalah etika hidup bersama.

Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita untuk memiliki kedalaman spiritual.

Kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat.

Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus berakhir menjadi perpecahan.

Kerakyatan mengajarkan pentingnya mendengar suara orang lain.

Dan keadilan sosial mengingatkan kita bahwa keberagamaan kehilangan maknanya ketika ia tidak menghadirkan keadilan bagi mereka yang lemah.

Saya kira inilah salah satu warisan penting Danny.

Ia mengajarkan kepada kita, melalui kehidupan dan perjalanan intelektualnya, bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi identitasnya.

Manusia jauh lebih besar daripada label agama.

Jauh lebih luas daripada suku.

Jauh lebih dalam daripada status sosial.

Manusia adalah makhluk yang terus bertumbuh.

Terus mencari.

Terus belajar.

Terus mempertanyakan.

Dan terus mencoba memahami makna hidupnya.

Karena itu, saya ingin mengatakan: Danny tidak benar-benar pergi.

Tubuhnya memang telah kembali kepada tanah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang pernah ia ajukan kepada kehidupan masih tinggal bersama kita.

Gagasan-gagasannya masih hidup. Persahabatannya masih hidup. Kebaikannya masih hidup. Dan terutama, pencariannya terhadap kebenaran masih menjadi pertanyaan bagi kita yang ditinggalkannya.

Kematian sering membuat kita bertanya: Mengapa orang baik harus pergi?

Tetapi mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting: Setelah orang baik pergi, apa yang akan kita lakukan dengan kebaikan yang pernah ia wariskan?

Kalau Danny mencintai manusia, apakah kita akan melanjutkan kecintaan itu?

Kalau Danny menghargai perbedaan, apakah kita akan menjaga ruang bagi perbedaan?

Kalau Danny berani bertanya, apakah kita masih berani bertanya?

Kalau Danny mencari kebenaran, apakah kita akan berhenti merasa bahwa kitalah satu-satunya pemilik kebenaran? Barangkali itulah cara terbaik mengenang seorang sahabat: bukan hanya dengan menangisinya, tetapi dengan meneruskan nilai-nilai baik yang pernah ia perjuangkan.

Maka hari ini saya ingin mengajak kita semua melihat keberagamaan dengan cara yang sedikit berbeda. Jangan hanya bertanya: “Apakah saya sudah menjadi orang beragama?” Tetapi bertanyalah: “Apakah keberagamaan saya telah membuat saya menjadi manusia?”

Apakah agama membuat kita lebih pemaaf?

Lebih adil?

Lebih rendah hati?

Lebih menghargai perempuan dan kelompok rentan lainnya?

Lebih menghormati kelompok yang berbeda?

Lebih peduli kepada mereka yang miskin dan tersisih?

Lebih menjaga kelestarian alam?

Lebih mencintai Indonesia?

Kalau jawabannya ya, maka agama telah menemukan rumahnya: di dalam hati dan di dalam tindakan manusia.

Danny, sahabat kita, Hari ini kami melepaskanmu dengan air mata. Tetapi kami tidak ingin mengenangmu hanya dengan kesedihan. Kami ingin mengenangmu sebagai seorang manusia yang berani menjalani perjalanan pencarian.

Engkau mengingatkan kami bahwa hidup bukan hanya tentang berapa lama kita tinggal di dunia.

Hidup adalah tentang seberapa dalam kita menyentuh kehidupan orang lain.

Bukan tentang berapa banyak yang kita miliki. Tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih bermakna karena kehadiran kita.

Dan mungkin, pada akhirnya, spiritualitas adalah kemampuan untuk sampai pada satu kesadaran sederhana: kita semua berasal dari sumber yang sama, berjalan di bumi yang sama, membutuhkan cinta yang sama, dan pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan yang sama, meski kita menyebut-Nya dengan beragam nama berbeda.

Saya ingin menutup taushiyah ini dengan sebuah renungan sederhana.

Suatu hari nanti, semua label akan selesai. Gelar akan selesai. Jabatan akan selesai.

Kekayaan akan selesai. Bahkan tubuh kita pun akan kembali ke tanah.

Yang tersisa adalah jejak yang kita tinggalkan dalam kehidupan manusia lain.

Apakah kita pernah membuat seseorang merasa dicintai?

Apakah kita pernah menolong seseorang yang sedang jatuh?

Apakah kita pernah membela orang yang diperlakukan tidak adil?

Apakah kita pernah membuat seseorang kembali percaya bahwa hidup ini layak dijalani?

Bahwa jalan menuju Tuhan bisa sangat beragam, tetapi hampir semua jalan spiritual yang matang akhirnya membawa manusia kepada satu tempat yang sama: kasih sayang, keadilan, kedamaian, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Itulah spiritualitas yang saya harapkan tumbuh dalam diri kita semua. Spiritualitas yang tidak menjauhkan kita dari manusia, tetapi semakin mendekatkan kita kepada manusia. Spiritualitas yang tidak membuat kita merasa paling benar, tetapi membuat kita semakin rendah hati. Spiritualitas yang tidak membangun tembok, melainkan jembatan perdamaian.

Saya tidak sedang mengajak kita menyamakan keyakinan. Saya hanya mengajak kita belajar menghormati perjalanan keyakinan masing-masing.

Kepada keluarga Danny, sahabat dan para kolega.

Kami tahu bahwa kehilangan tidak dapat dihapus dengan kata-kata. Tidak ada taushiyah yang mampu menghilangkan rasa rindu. Tidak ada doa yang dapat membuat waktu berputar kembali. Tetapi semoga keluarga diberi kekuatan untuk menerima satu kenyataan: kehidupan Danny telah selesai, tetapi makna kehidupannya belum selesai.

Makna itu sekarang berpindah kepada kita.

Kepada keluarga.

Kepada sahabat.

Kepada murid dan koleganya.

Kepada siapa pun yang pernah disentuh oleh pikiran, perhatian, persahabatan, dan kebaikannya.

Dan akhirnya, marilah kita berdoa. Ya Tuhan Yang Maha Pengasih,

Kami datang dengan hati yang penuh kehilangan. Kami serahkan kepada-Mu sahabat kami, Danny Irawan Yatim.

Engkau mengetahui perjalanan hidupnya jauh lebih baik daripada kami.

Engkau mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang pernah memenuhi pikirannya.

Engkau mengetahui pencariannya terhadap kebenaran.

Engkau mengetahui kebaikan yang pernah ia lakukan, bahkan yang tidak pernah diketahui oleh manusia.

Jika ada kekurangan dalam hidupnya, ampunilah.

Jika ada kesalahan dalam langkahnya, maafkanlah.

Jika ada kebaikan dalam perjalanan hidupnya, terimalah dan jadikanlah ia amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Berikan ketabahan kepada keluarganya. Berikan kekuatan kepada sahabat-sahabatnya. Dan jadikanlah kepergiannya sebagai pengingat bagi kami yang masih hidup: bahwa waktu kami di dunia terbatas, bahwa kehidupan adalah amanah,

bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling membenci, bahwa agama seharusnya menjadi jalan menuju kasih, dan bahwa menjadi Indonesia berarti belajar hidup bersama dalam perbedaan.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha pengasih, Semoga Danny menemukan kedamaian di dalam kasih-Mu. Dan semoga kami yang masih berjalan di bumi ini mampu meneruskan pencarian yang baik: mencari kebenaran tanpa kesombongan, mencari Tuhan tanpa membenci manusia, mencintai agama tanpa merendahkan agama lain, dan mencintai Indonesia dengan cara menjaga kemanusiaannya.

Selamat jalan, Danny. Perjalananmu di dunia telah selesai. Tetapi jejakmu masih berjalan bersama kami. Semoga engkau beristirahat dalam damai.

Untuk para Muslim dan Muslimat mari bersama membacakan Al-fatihah dalam hati. Adapun lainnya silahkan menyesuaikan.

Terkini