Ekofeminisme Qur’ani Membaca Bencana Nasional Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)
Oleh: Atssania Zahroh
(Alumni PKU-P)
Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) menjadi bahan yang harus diterus dikaji lebih mendalam. Sejak puncaknya bulan Agustus sampai Oktober hari ini, berita Karhutla tidak semakin mereda tapi semakin memanas. Agustus 2026, Green Peace melaporkan dalam siaran persnya: Karhutla terjadi di lahan konsesi pertambangan, perkebunan sawit, dan kehutanan.
Karhutla yang tidak kunjung ditetapkan sebagai Bencana Nasional oleh pemerintah pusat sampai hari ini, nyata berakibat langsung kepada masyarakat di sekeliling. Namun di balik itu, ada korban yang tidak hanya manusia, melainkan adalah hewan, tumbuhan, atau spesies yang langka terancam kehilangan habitat aslinya. Mereka juga susah bernafas, mereka juga sama kehilangan dan mengalami kesengsaraan sama seperti halnya manusia.
Melalui tulisan ini, saya ingin merefleksi bencana kebakaran hutan yang melihat ketidakadilan sosial dan krisis spiritual. Bagaimana relasi yang terjadi anatara sesame manusia, manusia dan alam (hewan dan tumbuhan), dan ritme alam itu sendiri. Melalui Ekofeminisme Kritis Greta Claire Gaard yang melihat bencana Karhutla dan Polaritas Teologis Sachiko Murata, di dalam tulisan ini akan membaca teks Al-Qur’an yang memiliki pesan penjagaan hutan dan ekosistem di dalamnya.
Ekofeminisme Sebagai Gerakan Perlawanan Industrialisasi
Ekofeminisme berkembang di Amerika sejalan dengan aksi para imperialis yang kental dengan budaya patriarki. Perempuan dinilai pasif seperti bejana yang nunggu diisi. Selain Amerika, yaitu India juga mempelopori lahirnya feminisme. Salah satu aksi nyata yaitu ‘Memeluk Bumi’ yang dilakukan oleh perempuan yang melawan para kapitalis. Kapitalis di India menghendaki kehancuran hutan sekaligus dan menjadikannya tidak berharga. Sehingga ekofeminis ramai dibincangkan serta gerakan pembebasan oleh partai-partai politik. (Atssania, 2024)
Jika didefinisikan ekofeminisme terdiri dari dua kata, yaitu ekologi dan feminism. Ekologi berarti hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Sementara feminism adalah kesadaran akan dimarjinalkannya seorang perempuan di lingkungan masyarakat, lingkungan kerja bahkan dari dalam rumah. Kemudian ekofeminisme dikenal luas di dalam buku Le Feminisme ou La Mort yang ditulis oleh Francois d’Eaubonne asal Prancis. Dari situ muncul Gerakan perempuan atas potensi untuk melindungi bumi. (Keraf, 2010)
Salah satu ekofeminis asal Amerika yaitu Greta C Gaard yang menyatakan bahwa ecofeminisme tidak hanya masalah sosial dan politik, akan tetapi lebih dalam adalah masalah pluriversal yang berkuasa dan merekognisi ekspresi lokalitas antara ragam lintas kultur-alam (manusia dan non-manusia). Dalam pengalaman pribadi Gaard ia adalah seorang ekofeminis yang berdarah Skandinavian tapi lahir di Minnesota. Ia tinggal di daerah pegunungan, sehingga ini yang membuat dia sangat dekat dengan alam, sehingga ia memilih beraliran ekofeminisme kritis. (Atssania, 2024)
Relasi Manusia, Alam, dan Allah (Tuhan Semesta Alam)
Al-Qur’an yang diakui kebenarannya sepanjang masa (shalih likulli zaman) akan mampu menjawab perkembangan zaman. Al-Qur’an menjelaskan dengan terang tentang penciptaan di bumi, tidak hanya manusia, melainkan tumbuhan dan hewan. Kesemua makhluk itu diterangakn di dalam Al-Qur’an merujuk kepada Allah, Maha Pencipta. Paradigma Tauhid ini yang menjadi dasar alam adalah sesuatu yang aktif dan penyedia semua kebutuhan makhluk, termasuk manusia.
Menurut Sachiko Murata seorang ekofeminis muslim, ia menyebutkan bahwa segala sesuatu asal muasalnya adalah seimbang. Ini tercermin dari sifat Yin (feminine) dan Yang (maskulin). Allah itu terdiri dari sifat Maha Kasih Sayang atau ar-rahim, sementara itu Allah juga bersifat Maha Perkasa atau al-qohhar. Menurut Murata istilah Yin dan Yang sama dengan Jamal dan Jalal di dalam cakupan sufistik.
- Sufi’s Perspective
Pespektif Sufi digambarkan suatu cara pandang yang lebih fundamental. Sachiko Murata menyebut sufistik sebagai Tradisi Hikmah. Dalam epistemology, tradisi hikmah ini tertuang di dalam segitiga cosmos yang terdiri dari Metacosmos, Macrocosmos, dan Microcosmos. Pada puncak segitiga, yaitu Allah atau Metacosmos. Sementara sudut bagian bawah kanan dan kiri adalah Macrosmos yang diposisikan alam, satu lainnya adalah Microcosmos yang ditempati oleh manusia. (Atssania, 2024)
Saat manusia dekat dengan alam, maka ia akan dekat kepada Allah, demikian Sufi menjadikannya sebagai prinsip. Manusia yang menyelami batinnya akan terpancar cahayanya dengan dia memperlakukan alam. “Where there to be no more contemplatives and saints, nature would become deprived of the light illuminate it and the air that keeps it alive” (Nasr, 1990)(Shofiatun, 2026). Jika manusia itu tidak menerangi bumi, maka bumi itu akan mengalami penurunan atau degradasi.
Cara pandang adalah hal yang utama dan pertama dibangun, khususnya di sini cara berpikir manusia terhadap alam. Ini yang membawa kepada amanah manusia sebagai khalifah fil ardh yaitu pemimpin yang ada di bumi. Manusia lah yang mengatur dan menjaga bumi. Epistemologi yang digambarkan oleh segitiga cosmos benar-benar tercipta bahwa manusia dan alam semua tunduk kepada Allah. Analogi yang tepat dengan hubungan antara manusia dan alam adalah sejajar, bukan manusia yang menunjukkan posisi yang lebih tinggi dari alam. Manusia sebagai petugas penjaga tidak lebih berkuasa dari pihak yang memberinya tugas yaitu Allah SWT.
- Interpretasi Terhadap Ayat Penciptaan: S Al-Baqarah (2):30
Al-Qur’an dibaca di dalam konteks yang lebih kepada subtansi untuk menjawab perkembangan zaman. Jika hanya dibaca dengan keadilan legal formal, maka yang timbul adalah ketidak adilan sosial. Ke-khalifah-an di bumi ini berkaitan erat dengan antroposentrisme, yaitu supremasi kekuasaan manusia. Jika dalam pembahasan ke-khalifah-an diinterpretasikan sebagai amanat untuk menjaga keselamatan alam dan juga antarsesama.
Al-Qur’an menjunjung tinggi kesamaan hak, memuliakan perempuan, dan melarang berbuat tidak adil. Jika manusia didekati dengan teks agama, manusia diharapkan menggali
potensi selain merusak bumi. Namun di sini manusia berbeda dengan makhluk lain, manusia diberi pilihan sementara alam tidak diberi pilihan. Ketika Allah menundukkan alam alam untuk kebutuhan manusia, di sini letak ijtihad manusia.
Menurut Quraish Shihab ke-khalifah-an adalah menjelaskan tentang Allah Rabb al-‘alamiin. Kata rabb yang dimaksud adalah yang memberi pelajaran. Allah menciptakan manusia dengan potensi akal, sehingga di dalam memahami amanah adalah kembali kepada Sang Pemberi Amanah, Allah Swt.
Diskusi: Manusia Bukanlah Satu-satunya Ciptaan Allah (Q.S Thaha (20):53)
Manusia bukan satu-satunya makhluk, akan tetapi terdapat tumbuhan dan hewan. Ia diciptakan dengan penuh keseimbangan sehingga terjadi harmoni di dalam alam. Seperti yang tertuang di Q.S Al-Isra’ (17): 44, bahwa semua ciptaan bertasbih kepada Allah. Jika seluruh ciptaan memiliki relasi dengan Allah, alam tidak tepat dipandang semata-mata sebagai objek pasif yang bebas dieksploitasi.
Hutan memiliki kehidupan dan keteraturan yang melampaui kepentingan manusia. Pohon, satwa, tanah, air, dan berbagai organisme merupakan bagian dari jaringan ciptaan yang keberadaannya tidak habis dijelaskan melalui nilai ekonomis. Dalam Tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi menyebutkan rentetan kejadian di balik Q.S Thaha (20):53, yaitu Fir’aun yang mempertanyakan kebenaran dan keagungan Tuhan, Allah Swt kepada Musa dan Harun. Musa yang menjawab pertanyaan Fir’aun menjelaskan secara detil bahwa Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu dengan ciri khas sekaligus manfaat di setiap yang khusus itu. Allah yang menurunkan hujan lalu menumbuhkan di dalam tanah yang basah itu dengan tumbuhan seperti palawija dan buah-buahan. Ayat 54 menutup percakapan dengan mengungkap bahwa petunjuk Allah akan ditangkap oleh orang yang berakal. (Al-Maraghi, juz 16)
Perspektif ekofeminis di dalam membahas karhutla adalah membedah ketimpangan yang terjadi pada alam atas perbuatan perusak. Ini sesuai dengan Gaard yang mengungkap ekofeminis kritis: hubungan lintas kultur alam dan non alam. Sementara sufistik adalah kerangka untuk menunjukkan bahwa segala ciptaan adalah bersumber dari Yang Maha Satu, yaitu Allah Swt. Sehingga Alam dan manusia adalah pihak yang menyediakan sumber dan penjaga sumber Kehidupan (Allah Swt).